Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Pemerintah Israel secara terbuka mengakui keterlibatan agen intelijennya di Iran di tengah memburuknya krisis ekonomi dan meluasnya gelombang aksi protes di negara tersebut. Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, dalam pernyataannya kepada media resmi militer Israel.
Dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, Eliyahu menyatakan bahwa Israel memiliki agen-agen yang beroperasi di wilayah Iran. Ia menyebut, penggunaan agen tersebut sudah berlangsung sejak konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang dikenal sebagai perang 12 hari pada Juni 2025, dan hingga kini aktivitas serupa masih berlanjut.
Menurut Eliyahu, keberadaan agen Israel tersebut berkaitan dengan situasi krisis yang sedang dialami Iran, yang dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial serta kondisi ekonomi yang semakin parah. Krisis ini kemudian memicu gelombang demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Iran.
Pernyataan Terbuka soal Operasi Intelijen Eliyahu menegaskan bahwa selama operasi militer yang disebut Israel sebagai “Rising Lion”, pihaknya telah memiliki kehadiran langsung di wilayah Iran. Ia menyebut kemampuan tersebut menjadi faktor penting dalam mempersiapkan dan melancarkan serangan terhadap Iran pada pertengahan 2025 lalu.
“Ketika kami menyerang Iran selama masa ‘Rising Lion’, kami berada di wilayahnya dan tahu bagaimana mempersiapkan serangan. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami memiliki beberapa orang kami yang beroperasi di sana saat ini,” ujar Eliyahu, dilansir dari New Arab, Rabu (14/1/2026).
Bantah Upaya Gulingkan Rezim Meski mengakui keberadaan agen Israel di Iran, Eliyahu menepis anggapan bahwa aktivitas tersebut bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Iran. Ia menegaskan misi utama agen Israel adalah melemahkan kapabilitas Iran, terutama yang dinilai dapat mengancam keamanan Israel.
“Apakah mereka sekarang bertindak langsung untuk menggulingkan rezim? Tidak. Apakah mereka bertindak untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat mengancam kita dari semua aspek lainnya? Ya,” tegasnya.
Penangkapan dan Eksekusi oleh Pemerintah Iran Penggunaan agen intelijen Israel di Iran selama perang 12 hari sebelumnya juga telah diakui oleh pemerintah Iran. Sejak konflik tersebut, otoritas Iran dilaporkan melakukan sejumlah penangkapan terhadap individu yang dituduh bekerja untuk badan intelijen Israel, Mossad.
Bahkan, sejak Juni 2025, Iran disebut telah mengeksekusi sedikitnya 10 orang yang divonis bersalah karena melakukan kegiatan mata-mata untuk Mossad. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan keamanan internal dan eksternal yang dihadapi Teheran.
Tuduhan Campur Tangan Asing Menguat Pernyataan Eliyahu dinilai memperkuat tudingan yang selama ini berkembang di Iran, yang menyebut adanya campur tangan asing khususnya dari Israel dan Amerika Serikat dalam gelombang protes nasional. Aksi unjuk rasa yang semula berlangsung damai itu kemudian berubah menjadi kerusuhan luas.
Kerusuhan tersebut dilaporkan telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga saat ini, sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas akibat bentrokan antara aparat keamanan dan massa demonstran, menjadikannya salah satu periode paling berdarah sejak Revolusi Iran 1979.
Gelombang protes yang masih berlangsung menempatkan Iran dalam situasi politik dan keamanan yang semakin genting, sementara ketegangan dengan Israel dan negara-negara Barat terus meningkat.
Red.












