majalahsuaraforum.com – Kementerian Pertanian mempercepat pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan dengan memperkuat sinergi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Upaya ini ditujukan untuk mempercepat penerapan hasil riset, menciptakan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, serta memperkuat daya saing komoditas Indonesia, terutama kopi dan kakao.
Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet menilai, riset dan inovasi memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan industri perkebunan nasional. Menurutnya, komoditas kopi dan kakao memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi serta kerja sama yang lebih kuat dengan sektor industri.
“Tugas yang diberikan kepada saya adalah mengakselerasi pembangunan dari hasil-hasil riset dan perakitan. Kita perlu mendorong kolaborasi lebih erat, khususnya dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait, sehingga inovasi yang dihasilkan bisa lebih cepat diadopsi menjadi teknologi unggul,” ujar Alim dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (24/10/2026).
Alim menjelaskan, potensi kopi dan kakao Indonesia dapat dimaksimalkan melalui pengembangan teknologi dan kemitraan yang berkelanjutan. Dengan menyelaraskan hasil penelitian dan kebutuhan pasar, inovasi yang dihasilkan diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi sektor perkebunan.
Selain mempercepat hilirisasi, Kementan juga berupaya mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas dan lahan yang dimiliki Balai Riset dan Modernisasi Perkebunan Tanaman Industri dan Penyegar. Aset negara tersebut dinilai dapat digunakan secara produktif melalui kemitraan di bidang pengembangan teknologi, pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kita perlu mengajak lebih banyak mitra untuk memanfaatkan fasilitas dan lahan yang ada. Nanti kebutuhannya kita petakan, mitranya kita identifikasi, dan saya siap membantu menghubungkan agar kolaborasi ini bisa berjalan,” jelasnya.
Hubungkan Hasil Penelitian dengan Kebutuhan Industri
Alim menyebut, tantangan pengembangan inovasi pertanian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan teknologi baru. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana hasil penelitian tersebut dapat diterapkan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan dunia usaha.
Karena itu, keterlibatan balai penelitian, perguruan tinggi, dan mitra industri perlu diperkuat agar inovasi yang telah dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diterapkan secara lebih luas di lapangan.
“Potensinya luar biasa. Tinggal bagaimana kita menyambungkan hasil inovasi ini dengan kebutuhan teknis dan mitra yang tepat,” katanya.
Ia juga mendorong agar pola kerja sama yang berhasil dijalankan di satu balai penelitian dapat diterapkan di balai lain di lingkungan Kementan. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil riset untuk berbagai komoditas strategis secara terintegrasi.
Saat ini, Kementan memiliki balai yang menangani beragam komoditas, di antaranya tanaman industri dan penyegar, kelapa sawit, tebu, tanaman rempah dan obat, serta tanaman pangan dan hortikultura. Berbagai potensi tersebut dapat dikembangkan melalui pembentukan maupun penguatan konsorsium yang melibatkan perguruan tinggi dan mitra terkait.
“Kalau model kolaborasi ini berhasil, saya kira bisa kita kembangkan secara paralel di balai-balai lain. Kita sudah memiliki konsorsium yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan mitra, dan ini akan kita lanjutkan,” pungkas Alim.
Melalui penguatan kolaborasi tersebut, Kementan berharap hasil penelitian dan inovasi pertanian dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Pengembangan hilirisasi kopi dan kakao juga diharapkan mampu mendorong terciptanya produk perkebunan bernilai tambah serta meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar.
lan.












