majalahsuaraforum.com – Aktivitas pelayaran energi global di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) dilaporkan keluar dari Selat Hormuz secara diam-diam di tengah meningkatnya konflik geopolitik di kawasan tersebut.
Berdasarkan data pelacakan kapal dari LSEG dan Kpler, sedikitnya tiga kapal tanker diketahui meninggalkan jalur strategis itu dengan transponder dimatikan. Kapal-kapal tersebut dilaporkan membawa muatan energi menuju China dan India.
Dua kapal tanker super pengangkut minyak mentah serta satu kapal tanker LNG tercatat melintasi Selat Hormuz pada awal pekan ini. Keberangkatan mereka terjadi ketika aktivitas pelayaran di jalur energi global tersebut masih terbatas akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Salah satu kapal tanker yang terpantau adalah VLCC Eagle Veracruz. Kapal tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi dan sedang berlayar menuju pelabuhan Quanzhou di Provinsi Fujian, China. Berdasarkan data pelayaran, kapal itu diperkirakan tiba pada 16 Juni 2026.
Selain itu, kapal tanker Nissos Keros yang mengangkut sekitar 1,8 juta barel minyak mentah dari Pulau Das, Uni Emirat Arab, juga telah keluar dari Selat Hormuz. Kapal tersebut diproyeksikan tiba di pelabuhan Visakhapatnam, India, pada 3 Juni 2026.
Data dari Kpler juga memperlihatkan kapal berbendera China, Hua Lin Wan, yang membawa muatan nafta dari Kuwait telah bergerak meninggalkan kawasan tersebut. Kapal itu diperkirakan tiba di pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong, pada 12 Juni mendatang.
Di sisi lain, kapal tanker LNG Umm Al Ashtan sempat menghilang dari sistem pelacakan sejak 1 Mei 2026 sebelum akhirnya kembali terdeteksi pada 27 Mei. Kapal tersebut diketahui membawa muatan LNG dari Pulau Das di Uni Emirat Arab dan sedang bergerak menuju India.
Meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah disebut berdampak besar terhadap aktivitas pelayaran internasional, terutama di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah menekan aktivitas kapal di kawasan tersebut. Selat Hormuz sendiri selama ini menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.
Sebelum konflik pecah, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mencapai sekitar 125 hingga 140 kapal per hari. Namun situasi keamanan yang memburuk membuat aktivitas pelayaran menurun drastis, bahkan ribuan pelaut dilaporkan masih tertahan di ratusan kapal di kawasan Teluk.
Ketidakpastian keamanan di jalur energi global itu juga memicu kekhawatiran pasar internasional terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dan gas dunia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga energi global dalam beberapa waktu ke depan.
Pergerakan kapal tanker menuju negara-negara Asia seperti China dan India menunjukkan bahwa permintaan energi tetap tinggi di tengah situasi geopolitik yang belum stabil. Namun para pelaku pasar dan pengamat energi internasional terus mencermati perkembangan konflik karena dinilai dapat memengaruhi rantai pasok energi global secara signifikan.
Red.











