majalahsuaraforum.com – 26 September 2025 Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (27/9/2025). Pidato tersebut menjadi perhatian besar dunia internasional karena berlangsung di tengah meningkatnya kritik global terhadap operasi militer Israel di Gaza.
Seperti diketahui, pidato tahunan Netanyahu di forum PBB kerap menjadi sorotan. Namun, kali ini situasi lebih menekan karena Israel tengah berhadapan dengan tuduhan kejahatan perang, isolasi diplomatik, serta desakan kuat untuk segera menghentikan konflik yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah negara Barat, termasuk Australia, Kanada, Prancis, dan Inggris, telah mengumumkan pengakuan resmi terhadap Palestina sebagai negara. Sementara Uni Eropa tengah menimbang pemberlakuan sanksi ekonomi terhadap Israel sebagai bentuk tekanan.
Awal bulan ini, Majelis Umum PBB menyetujui resolusi tidak mengikat yang menyerukan Israel agar berkomitmen pada pembentukan negara Palestina. Namun, Netanyahu menolak resolusi tersebut.
Situasi semakin pelik setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Di sisi lain, Mahkamah Internasional (ICJ) juga sedang memproses gugatan Afrika Selatan yang menuduh Israel melakukan genosida di Gaza—klaim yang ditolak mentah-mentah oleh Israel.
Sebelum berangkat menuju New York, Netanyahu menegaskan tekadnya untuk menyampaikan pandangan Israel di panggung internasional.
“Saya akan mengutuk para pemimpin yang, alih-alih mengecam para pembunuh, pemerkosa, dan pembakar anak-anak, justru ingin memberi mereka sebuah negara di jantung Israel,” ujarnya.
Ia menolak tegas konsep solusi dua negara, dengan alasan bahwa pembentukan negara Palestina hanya akan menguntungkan Hamas. “Ini tidak akan terjadi,” tegas Netanyahu.
Sejak serangan Hamas pada 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera lebih dari 250 orang, militer Israel melakukan operasi besar-besaran di Gaza. Aksi balasan tersebut telah menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, memaksa 90 persen penduduk Gaza mengungsi, dan memicu krisis kelaparan yang meluas.
Meski lebih dari 150 negara kini mengakui Palestina, Israel tetap mendapat dukungan kuat dari Amerika Serikat. Namun, Presiden Donald Trump mulai menunjukkan sikap tegas dengan menolak rencana Israel mencaplok wilayah Tepi Barat.
Dalam kunjungannya ke New York, Netanyahu dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan Trump. Salah satu isu yang diperkirakan akan dibahas adalah kebijakan pembangunan permukiman baru di Tepi Barat yang banyak dinilai dapat menggagalkan upaya perdamaian.
Sementara itu, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas berkesempatan berpidato di forum yang sama melalui tayangan video, setelah pemerintah AS menolak memberikan visa kepadanya. Abbas menyambut baik dukungan global yang semakin meluas terhadap Palestina, namun menegaskan perlunya langkah nyata dari komunitas internasional.
“Waktunya telah tiba bagi komunitas internasional untuk membantu rakyat Palestina mewujudkan hak-hak sah mereka, terbebas dari pendudukan, dan tidak lagi menjadi sandera politik Israel,” ujar Abbas.
Dalam pidatonya, Abbas kembali menegaskan komitmen Palestina terhadap solusi dua negara, dengan wilayah yang mencakup Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur sebagai bagian dari negara Palestina di masa depan.
Red.











