Foto. Ist
majalahsuaraforum.com — Militer Amerika Serikat kembali melancarkan operasi bersenjata terhadap sebuah kapal yang diduga terlibat dalam jaringan penyelundupan narkoba di wilayah Samudra Pasifik Timur. Serangan yang berlangsung pada Jumat malam waktu setempat itu dilaporkan menewaskan dua orang yang oleh pihak militer AS disebut sebagai pelaku yang terhubung dengan organisasi perdagangan narkotika.
Komando Selatan Amerika Serikat, United States Southern Command (SOUTHCOM), menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari langkah berkelanjutan untuk memutus jalur perdagangan narkoba di kawasan Amerika Latin dan sekitarnya.
Dalam keterangannya, SOUTHCOM menyebut pasukan AS melakukan serangan mematikan terhadap kapal yang tengah melintas di salah satu jalur yang dikenal sebagai rute perdagangan narkoba di Pasifik Timur.
“Intelijen mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut sedang melintasi rute perdagangan narkoba yang diketahui di Pasifik Timur dan terlibat dalam operasi perdagangan narkoba,” demikian pernyataan SOUTHCOM.
Serangan tersebut diperintahkan langsung oleh Komandan SOUTHCOM, Francis L. Donovan, dan dijalankan oleh satuan tugas gabungan Southern Spear yang selama beberapa bulan terakhir aktif melakukan operasi serupa.
Pihak militer AS menyebut dua pria yang berada di atas kapal tewas dalam serangan itu.
“Dua terduga teroris narkoba berjenis kelamin laki-laki tewas selama aksi ini,” sebut SOUTHCOM.
Dengan tambahan korban dari operasi terbaru ini, jumlah korban tewas dalam serangkaian operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di kawasan Amerika Latin kini mencapai sedikitnya 182 orang sejak operasi intensif dimulai pada September tahun lalu.
Sepanjang April 2026 saja, pejabat militer AS mengklaim sedikitnya tujuh serangan serupa telah dilancarkan, menandakan peningkatan tekanan terhadap jaringan perdagangan narkotika lintas laut.
Langkah ini menunjukkan bahwa Washington terus memperketat pengawasan dan operasi militer di jalur-jalur maritim strategis yang selama ini kerap dimanfaatkan untuk aktivitas penyelundupan narkoba menuju Amerika Utara dan wilayah lainnya.
Red.











