Home / Ekonomi / Tantangan Pengusaha RI: Biaya Operasional Tinggi dan Regulasi yang Kompleks

Tantangan Pengusaha RI: Biaya Operasional Tinggi dan Regulasi yang Kompleks

Majalahsuaraforum.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan komitmennya untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen pada tahun 2026. Namun, para pelaku usaha masih menghadapi sejumlah hambatan yang dinilai cukup berat, terutama terkait dengan tingginya biaya operasional dan regulasi yang dinilai belum sepenuhnya kondusif.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, mengungkapkan bahwa salah satu persoalan utama yang dihadapi dunia usaha saat ini adalah biaya logistik yang relatif tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini, menurutnya, membuat Indonesia kurang kompetitif di pasar regional.

> “Kami sudah seringkali menyampaikan bahwa realitanya kita memang masih terjebak dalam high cost trap. Indonesia mungkin termasuk yang high cost economy yang mungkin masih menjadi tantangan untuk bisa berkompetisi dengan negara-negara tetangga,” ujar Shinta dalam program Investor Market Today, Kamis (21/8/2025).

 

Shinta menambahkan, biaya logistik di Indonesia lebih mahal jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, hingga China. Hal ini menjadi kendala serius bagi pelaku usaha dalam mengembangkan daya saing.

Selain logistik, Shinta juga menyoroti tingginya biaya energi, terutama listrik. Menurut laporan yang ia terima, pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) harus menanggung biaya listrik yang lebih mahal dibandingkan dengan industri sejenis di negara lain.

Tidak hanya itu, persoalan suku bunga kredit juga menjadi tantangan tersendiri. Shinta menjelaskan, suku bunga kredit di Indonesia masih berada di kisaran 8%–14%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN yang hanya sekitar 4%–6%.

> “Kalau kita lihat biaya logistik Indonesia itu juga lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia, China, Singapura, dan lain-lain. Dan ini menjadi satu kendala,” jelas Shinta.

 

Di luar faktor biaya, Apindo juga menyoroti aspek regulasi. Menurut Shinta, kepastian hukum serta perizinan yang masih dinilai rumit kerap menjadi hambatan bagi dunia usaha.

Selain itu, ia juga mengingatkan tentang penurunan daya beli masyarakat kelas menengah yang bisa berdampak pada permintaan domestik.

> “Jadi, di sisi lain kekuatan sebuah ekonomi itu tentunya bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari daya beli masyarakat yang menopang permintaan domestik ini,” pungkasnya.

 

Dengan kondisi tersebut, Apindo menilai bahwa upaya pencapaian target pertumbuhan ekonomi pemerintah memerlukan perhatian lebih serius terhadap persoalan biaya operasional dan regulasi yang saat ini masih membebani dunia usaha.

 

Pen. Lan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh