Home / Ekonomi / Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Harga Minyak Dunia Meski Konflik Masih Berlanjut

Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Harga Minyak Dunia Meski Konflik Masih Berlanjut

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (21/7/2026) setelah pelaku pasar merespons positif munculnya upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan ketegangan di Timur Tengah. Meski demikian, penurunan harga masih tertahan karena konflik bersenjata kedua negara terus berlangsung dan memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent pada perdagangan Selasa siang turun sebesar 78 sen atau sekitar 0,9 persen menjadi US$ 88,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga terkoreksi 73 sen atau 0,9 persen sehingga diperdagangkan di level US$ 82,50 per barel.

Analis dari ING menilai pelemahan harga dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap peluang deeskalasi konflik setelah mediator internasional mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari antara Amerika Serikat dan Iran. Apabila kesepakatan tersebut disetujui kedua belah pihak, langkah itu berpotensi menghidupkan kembali nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) yang telah ditandatangani pada Juni lalu sebagai pijakan menuju perjanjian damai yang lebih permanen.

Namun demikian, ING mengingatkan bahwa proses menuju perdamaian masih menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan kepentingan mendasar antara Washington dan Teheran masih belum menemukan titik temu. Selain itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga telah menyatakan akan melakukan aksi balasan setelah sejumlah prajurit AS tewas dalam serangan yang terjadi sebelumnya.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah Iran telah menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari yang diajukan oleh para mediator. Usulan tersebut bertujuan mempertahankan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni sekaligus menjadi dasar bagi penyusunan perjanjian damai jangka panjang untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.

Di tengah proses diplomasi tersebut, aksi militer di lapangan masih terus terjadi. Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran, sementara Garda Revolusi Iran melakukan serangan balasan dengan menyasar aset-aset militer Amerika Serikat di berbagai lokasi.

Situasi keamanan juga memburuk di jalur pelayaran internasional. Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz terkena proyektil yang hingga kini belum diketahui asalnya. Insiden itu memaksa seluruh awak kapal meninggalkan kapal menggunakan sekoci penyelamat. Selain itu, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan akibat meningkatnya risiko keamanan.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan rencana untuk melakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperluas konflik sekaligus meningkatkan ancaman terhadap distribusi energi dan perdagangan internasional.

“Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi sangat signifikan karena meningkatkan risiko terganggunya ekspor minyak dari salah satu produsen utama dunia,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.

Sementara itu, hasil survei awal Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat diperkirakan kembali mengalami penurunan pada pekan lalu seiring berkurangnya stok bensin. Di sisi lain, persediaan produk olahan seperti diesel diperkirakan meningkat. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi faktor yang menopang harga minyak dunia dalam jangka pendek.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh