majalahsuaraforum.com – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dan Israel, serta potensi gangguan di Selat Hormuz, diperkirakan akan berdampak pada kenaikan biaya distribusi nasional dan harga barang di Indonesia.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia serta 20%-25% perdagangan LNG global. Gangguan di wilayah tersebut berisiko mendorong lonjakan harga energi internasional.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menyampaikan dampak terhadap Indonesia akan terjadi melalui transmisi harga minyak global (brent) ke harga solar domestik.
“Solar merupakan komponen utama biaya operasional transportasi jalan, yang masih menjadi tulang punggung sistem logistik nasional,” kata Setijadi, Minggu (1/3/2026).
Skenario Kenaikan Harga Solar Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar US$ 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750-2.000 per liter, bergantung pada nilai tukar dan kebijakan penyesuaian harga.
Sementara dalam skenario lebih berat, dengan kenaikan hingga US$ 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi diperkirakan meningkat lebih signifikan.
Setijadi menjelaskan, dengan asumsi komponen BBM mencapai sekitar 35%-40% dari total biaya operasi truk, kenaikan harga solar 10% dapat memicu kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5%-4%. Jika harga solar naik 20%, ongkos truk berpotensi meningkat 7%-8%.
“Dalam skenario lebih berat, kenaikan solar 30% dapat memicu lonjakan ongkos angkut hingga 10,5%-12%,” beber dia.
Dampak ke Harga Barang Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14% dari harga produk, dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan. Jika ongkos truk naik 7%-8%, harga barang rata-rata berpotensi meningkat sekitar 0,5%.
“Dalam kondisi lebih ekstrem, kenaikan ongkos truk di atas 10% dapat mendorong kenaikan harga barang mendekati 0,8%, terutama pada komoditas bulky dan margin tipis seperti pangan, bahan bangunan, serta produk konsumsi cepat saji,” kata Setijadi.
Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, pelaku usaha diminta mencermati perkembangan harga energi global karena berpotensi memberi tekanan lanjutan terhadap struktur biaya distribusi nasional.
Lan.











