majalahsuaraforum.com – Sekitar 20 ribu warga dari berbagai elemen masyarakat memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Ahad (18/5), dalam Aksi Bela Palestina bertema “Genosida Belum Berhenti, Jangan Ada Nakba Lagi”. Aksi ini digelar untuk memperingati 77 tahun tragedi Nakba — pengusiran paksa warga Palestina pada 1948 — serta mengecam genosida yang masih berlangsung di Gaza.
Peserta aksi membawa boneka bayi dan replika potongan tubuh manusia yang dilumuri warna merah sebagai simbol kekejaman terhadap warga sipil Palestina. Mereka juga membentangkan berbagai poster bertuliskan “Kecam Amerika: Pendana Genosida!”, “Israel Bukan Negara, Tapi Proyek Penjajahan!”, hingga “Nakba Belum Usai, Palestina Melawan!”.
Dalam kesempatan itu, Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) menyampaikan pernyataan sikap resmi yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 15 Mei sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan Internasional. ARI-BP juga menyerukan penerbitan resolusi Majelis Umum PBB yang mengacu pada fatwa Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk menghukum Israel serta menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dukungan pada Komitmen Pemerintah
ARI-BP menyambut baik komitmen Presiden Prabowo Subianto yang mendukung kemerdekaan Palestina. Namun, mereka menuntut langkah konkret, termasuk tekanan diplomatik terhadap Amerika Serikat agar menghentikan dukungannya terhadap agresi Israel.
“Indonesia harus memimpin gerakan global untuk memperjuangkan keadilan dan menghentikan penjajahan di Palestina,” ujar Ketua MUI Bidang Luar Negeri Prof. Sudarnoto Abdul Hakim dalam orasinya. Ia juga mengajak masyarakat luas untuk konsisten menjalankan fatwa MUI mengenai boikot produk terafiliasi Israel.
Ajakan Aksi Nyata: Bangun Gaza, Bukan Hanya Evakuasi
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin, turut hadir dan menyampaikan pidato emosional. Ia menyatakan bahwa Nakba adalah luka sejarah yang belum sembuh. “Kami menyerukan: Jangan ada Nakba lagi! Ini bukan hanya soal kemerdekaan Palestina, tetapi soal moralitas kemanusiaan global,” tegasnya.
Din juga mengkritik rencana evakuasi warga Palestina oleh Indonesia yang diusulkan Presiden Prabowo. Ia menilai, langkah yang lebih berani dan berdampak adalah membangun kembali infrastruktur Gaza.
“Evakuasi belum tentu menjamin warga bisa kembali. Lebih baik Indonesia memimpin aksi kemanusiaan nyata: kirim tenaga medis, bangun rumah sakit, tunjukkan keberpihakan pada rakyat tertindas,” ujarnya.
Ia juga menyoroti lambannya tindak lanjut atas putusan ICC terhadap Netanyahu. “Keadilan internasional harus ditegakkan. Ini bukan sekadar konflik, tapi kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya.
Seruan Solidaritas dan Boikot
Aksi tersebut ditutup dengan seruan untuk memperluas gerakan boikot terhadap produk dan entitas yang mendukung Israel. Din mengingatkan pentingnya solidaritas rakyat Indonesia, mengingat Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
“Solidaritas kita kepada Palestina bukan hanya kewajiban moral, tetapi amanat sejarah dan konstitusi kita. Saatnya dunia bersatu menolak penjajahan dan menghentikan genosida,” pungkasnya.(harun*s)











