foto istimewa
majalahsuaraforum.com – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan pada Rabu (28/10/2026). Penguatan lebih dari 1% terjadi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kilang minyak terbesar di Arab Saudi, sehingga memunculkan kekhawatiran baru mengenai pasokan minyak global.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent pada Rabu siang tercatat naik US$ 1,59 atau sekitar 1,4% menjadi US$ 115,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat (AS) turut menguat US$ 1,43 atau 1,4% ke posisi US$ 101,33 per barel.
Kenaikan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia sekaligus produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia.
Houthi Klaim Serang Kilang Minyak
Kelompok Houthi yang memiliki hubungan dengan Iran pada Selasa (27/10/2026) menyatakan telah melancarkan serangan rudal terhadap kilang minyak terbesar Arab Saudi.
Serangan yang diklaim tersebut menambah kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap kegiatan produksi maupun distribusi minyak mentah dari negara tersebut.
Meski demikian, otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung mengenai serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak yang memiliki kapasitas mencapai 550.000 barel per hari itu.
Ketidakpastian mengenai kondisi fasilitas tersebut turut menjadi perhatian pasar, mengingat gangguan terhadap infrastruktur energi di kawasan penghasil minyak utama dapat memengaruhi persepsi terhadap ketersediaan pasokan global.
Harga Minyak Berbalik Menguat
Penguatan harga minyak pada Rabu terjadi setelah kedua acuan minyak mentah tersebut sempat mengalami penurunan hampir US$ 2 per barel pada Selasa.
Pergerakan harga yang kembali naik menunjukkan bahwa pasar masih memperhitungkan risiko meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Situasi geopolitik yang belum menentu membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan terbaru, terutama yang berpotensi mengganggu pasokan energi.
Selain dampak langsung dari serangan terhadap fasilitas minyak, arah kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh investor.
Kebijakan Trump terhadap Iran Jadi Perhatian Pasar
Analis ING menilai harga minyak masih bertahan pada level tinggi karena pasar menunggu kepastian mengenai langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berikutnya terhadap Iran.
“Harga minyak tetap tinggi karena pasar menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai langkah Presiden Trump selanjutnya terhadap Iran,” kata ING strategists.
Mereka juga menjelaskan bahwa premi risiko dalam perdagangan minyak berpotensi berkurang apabila tidak ada serangan baru terhadap Iran hingga pemilu sela di Amerika Serikat selesai.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan politik dan keamanan masih menjadi faktor penting dalam menentukan pergerakan harga minyak dunia. Selama ketidakpastian mengenai konflik dan kebijakan terhadap Iran belum mereda, risiko gangguan pasokan diperkirakan tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Dengan kondisi tersebut, harga minyak mentah global masih berpotensi bergerak mengikuti perkembangan situasi di Timur Tengah serta keputusan politik yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi internasional.
lan.










