Home / Nasional / BRIN Ungkap Kedalaman Dapur Magma Anak Krakatau, Berbeda dari Krakatau Purba

BRIN Ungkap Kedalaman Dapur Magma Anak Krakatau, Berbeda dari Krakatau Purba

majalahsuaraforum.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap karakteristik sistem magmatik Gunung Anak Krakatau yang ternyata memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan Krakatau Purba dan Krakatau Muda.

Hasil penelitian terhadap 16 sampel batuan menunjukkan dapur magma Gunung Anak Krakatau diperkirakan berada pada kedalaman antara 7,4 hingga 26,6 kilometer (km) di bawah permukaan.

Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan sistem magmatik Gunung Anak Krakatau yang merupakan bagian dari rangkaian sejarah aktivitas vulkanik Krakatau.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Aditya Pratama, mengatakan ketiga generasi Krakatau memiliki kemiripan dalam hal mineral penyusun batuan. Kendati demikian, terdapat karakteristik tertentu yang membedakan Anak Krakatau dari pendahulunya.

Salah satu perbedaan tersebut ditemukan pada mineral olivin yang terdapat dalam sampel batuan Anak Krakatau.

“Dari segi mineralogi, relatif mirip antara sampel di Old Krakatau, Krakatau (muda), dan Anak. Hanya saja mungkin yang relatif membedakan itu di Anak Krakatau, kita temukan olivin,” ungkap Aditya Pratama dalam Geohazard Webinar BRIN bertajuk ‘Karakteristik Vulkanik Gunung Api Krakatau’ secara daring, Senin (14/9/2026).

Dapur Magma Anak Krakatau Lebih Dalam Penelitian BRIN dilakukan dengan menganalisis 16 sampel batuan yang berasal dari tiga generasi Krakatau, yakni Krakatau Purba, Krakatau Muda, dan Anak Krakatau.

Selain melihat karakteristik mineral yang terdapat pada batuan, para peneliti turut menganalisis perbedaan material magnetik. Kajian tersebut dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi sistem magmatik gunung api.

BRIN menggunakan metode geotermobarometri dalam memperkirakan posisi dapur magma masing-masing generasi Krakatau.

Berdasarkan hasil analisis, dapur magma Anak Krakatau diperkirakan berada pada kedalaman 7,4 hingga 26,6 km. Tekanan yang berkaitan dengan kondisi tersebut diperkirakan berada pada kisaran 185 hingga 665 MPa.

Kondisi tersebut berbeda dibandingkan Krakatau Purba dan Krakatau Muda. Dapur magma Krakatau Purba diperkirakan berada pada kedalaman 0,6 hingga 2,9 km, sedangkan Krakatau Muda berada pada kedalaman sekitar 1,1 hingga 3,4 km.

Perbedaan kedalaman dapur magma tersebut menjadi salah satu parameter penting dalam melihat perkembangan sistem magmatik dari masing-masing generasi Krakatau.

Anak Krakatau Masih dalam Fase Inkubasi Awal Aditya menjelaskan, penelitian mengenai karakteristik magma memiliki manfaat untuk membantu para peneliti memahami berbagai proses yang berlangsung di bawah permukaan gunung api.

Meski demikian, kedalaman dapur magma tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menentukan kapan sebuah letusan besar akan terjadi.

Dalam kajian tersebut, letusan pembentuk kaldera atau caldera-forming eruption dapat terjadi melalui sejumlah tahapan dalam perkembangan sistem magmatik. Tahapan itu meliputi inkubasi, pematangan atau maturation, serta fermentasi.

Berdasarkan karakteristik dapur magma yang teridentifikasi saat ini, Anak Krakatau dinilai masih berada pada fase inkubasi awal.

Kondisi tersebut menunjukkan sistem magmatik Anak Krakatau masih mengalami perkembangan. Karakteristiknya juga belum menunjukkan kondisi yang sama seperti sistem magmatik yang mendahului letusan pembentuk kaldera pada masa lalu.

“Memang masih sama seperti yang akan dialami oleh ayah-ibunya, terjadi caldera forming eruption (letusan). Namun, memang dari segi karakteristik kalau kita lihat sekarang, masih relatif cukup jauh untuk menuju arah itu,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kemungkinan terjadinya letusan pembentuk kaldera tetap menjadi bagian dari kajian mengenai evolusi vulkanik Krakatau. Namun, hasil penelitian itu tidak dapat dimaknai sebagai prediksi bahwa letusan besar akan terjadi dalam waktu dekat.

Tidak Berarti Letusan 1883 Akan Segera Terulang Sejarah Krakatau mencatat salah satu letusan gunung api paling dahsyat pada 1883. Letusan tersebut menimbulkan tsunami besar dan menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia di wilayah sekitar Selat Sunda.

Setelah peristiwa besar tersebut, Gunung Anak Krakatau kemudian muncul dari rangkaian aktivitas vulkanik Krakatau.

Kemunculan Anak Krakatau membuat penelitian mengenai sistem magmatik gunung tersebut menjadi penting, terutama untuk mengetahui bagaimana perkembangan sistem vulkaniknya serta memahami potensi bahaya geologi pada masa mendatang.

Aditya menegaskan, kondisi karakteristik magma Anak Krakatau saat ini masih relatif jauh dari keadaan yang mengarah pada terjadinya letusan pembentuk kaldera. Kendati demikian, perkembangan sistem magmatik tersebut tetap perlu dipantau dan dipelajari secara berkelanjutan.

Dengan demikian, hasil penelitian BRIN tidak menunjukkan bahwa peristiwa letusan dahsyat seperti yang terjadi pada 1883 akan segera terulang.

Temuan tersebut lebih menitikberatkan pada upaya memahami proses evolusi dan perubahan sistem magmatik Anak Krakatau. Pengetahuan tersebut dapat menjadi salah satu dasar dalam memperkuat kajian mitigasi serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana gunung api.

Penelitian mengenai karakteristik vulkanik Krakatau juga diharapkan dapat memperluas pemahaman ilmiah mengenai proses pembentukan dan perkembangan dapur magma.

Informasi dari penelitian tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bencana geologi di kawasan Selat Sunda dan sekitarnya.

Dw.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh