majalahsuaraforum.com-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena El Niño yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang, kenaikan suhu udara, hingga meningkatnya risiko kebakaran di wilayah ibu kota.
Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan berbagai sektor penting di Jakarta.
“Fenomena El Niño yang menguat memang perlu diantisipasi secara serius karena berpotensi memicu kemarau panjang, peningkatan suhu, serta menurunnya curah hujan yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk potensi kebakaran,” kata Maruli, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, penurunan curah hujan selama periode El Niño dapat memperbesar potensi kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk dan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap cuaca panas ekstrem.
Karena itu, BPBD DKI mengimbau warga agar lebih berhati-hati dalam penggunaan api maupun instalasi listrik selama musim kemarau berlangsung. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran lahan maupun permukiman.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka serta meningkatkan kewaspadaan terhadap instalasi listrik dan penggunaan api,” ujarnya.
Selain menjaga kewaspadaan di lingkungan masing-masing, warga Jakarta juga diminta aktif memantau perkembangan cuaca melalui informasi resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG. Jika menemukan kondisi darurat, masyarakat diimbau segera menghubungi layanan darurat Jakarta Siaga 112.
BPBD DKI Jakarta memastikan sistem kesiapsiagaan tetap berjalan selama periode potensi El Niño. Pemantauan wilayah rawan kebakaran dan kekeringan terus dilakukan untuk mempercepat respons apabila terjadi keadaan darurat.
Fenomena El Niño sendiri dikenal sebagai anomali iklim yang dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga meningkatkan suhu udara dan memperbesar risiko kebakaran saat musim kemarau berlangsung.(dw)











