Home / Ekonomi / Biodiesel Jadi Senjata Utama Indonesia Tekan Impor BBM dan Hemat Devisa

Biodiesel Jadi Senjata Utama Indonesia Tekan Impor BBM dan Hemat Devisa

majalahsuaraforum.com — Kebijakan mandatori biodiesel dinilai semakin menunjukkan peran strategis dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Program ini juga berkontribusi besar dalam penghematan devisa negara.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menyebut bahwa biodiesel memiliki potensi besar sebagai substitusi solar. Hal ini didukung oleh ketersediaan bahan baku kelapa sawit yang melimpah di dalam negeri serta teknologi pengolahan yang semakin matang.

Menurutnya, implementasi program biodiesel mampu menekan impor solar secara signifikan dan memperbaiki neraca perdagangan energi nasional. Ia memperkirakan, kebijakan ini dapat menghemat devisa hingga sekitar US$ 8–10 miliar per tahun.

Namun demikian, Rhenald menekankan pentingnya tata kelola industri sawit yang berkelanjutan. Ia mengingatkan agar pengembangan biodiesel tidak memicu deforestasi, tetap menjaga lingkungan, serta menghormati hak masyarakat adat. Selain itu, ia juga menyoroti potensi konflik antara kebutuhan energi dan pangan.

“Peningkatan penggunaan CPO untuk energi bisa mengurangi pasokan pangan, yang berpotensi menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung. Ia menilai kebijakan biodiesel telah memberikan dampak nyata dalam mengurangi impor BBM berbasis fosil.

Tungkot menjelaskan bahwa program biodiesel di Indonesia terus berkembang secara bertahap, mulai dari B1 hingga kini menuju target B50 pada Juli 2026. Program ini diperkirakan mampu menekan ketergantungan impor solar hingga sekitar 50%.

Sebagai contoh, implementasi B40 berhasil menurunkan impor solar dari 8,3 juta kiloliter pada 2024 menjadi 5 juta kiloliter pada 2025, atau berkurang sekitar 3,3 juta kiloliter.

Dari sisi ekonomi, sepanjang 2025 kebijakan ini menghasilkan: Penghematan devisa sebesar Rp 130,21 triliun, Penurunan emisi hingga 38,88 juta ton CO₂ ekuivalen, Peningkatan nilai tambah CPO menjadi biodiesel sebesar Rp 20,43 triliun.

Program mandatori biodiesel sendiri telah dimulai sejak 2008, dari B1 hingga terus berkembang menuju B50. Pendanaannya berasal dari dana sawit yang dihimpun melalui pungutan ekspor dan dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Tungkot menegaskan bahwa penggunaan biodiesel tidak hanya berdampak pada ketahanan energi, tetapi juga berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan. Bioenergi berbasis sawit menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.

Ia menambahkan, secara global konsumsi energi fosil menyumbang sekitar 70%–80% emisi penyebab pemanasan global. Oleh karena itu, penggunaan biodiesel menjadi bagian penting dari upaya Indonesia dalam mengurangi emisi tersebut.

Ke depan, biodiesel diyakini akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Selain itu, peningkatan penggunaan biodiesel juga memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk mendorong industri sawit, meningkatkan permintaan CPO, serta menjaga harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Sebagai penutup, Tungkot menekankan pentingnya peningkatan produktivitas kebun sawit dan pengembangan teknologi bioenergi agar semakin efisien dan berkelanjutan.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh