majalahsuaraforum.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green 95, dapat mengalami penurunan apabila harga minyak mentah dunia kembali bergerak turun dalam waktu mendatang.
Menurut Purbaya, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi sebelumnya merupakan konsekuensi dari melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga harga BBM bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan.
“Salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak disubsidi walaupun yang subsidi kita pertahankan, tetapi tekanannya sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa peluang penurunan harga minyak dunia mulai terbuka seiring berkembangnya harapan terciptanya situasi yang lebih kondusif dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Jika harga energi global mengalami koreksi, maka harga BBM nonsubsidi di dalam negeri juga berpotensi menyesuaikan.
“Namun saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” ujar Purbaya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Meski terjadi kenaikan yang cukup signifikan, Purbaya menilai dampaknya terhadap inflasi nasional tidak terlalu besar. Hal tersebut karena penggunaan Pertamax lebih banyak berasal dari kendaraan pribadi dan bukan sektor transportasi logistik atau angkutan barang yang memiliki pengaruh langsung terhadap distribusi kebutuhan pokok.
“Dampaknya harusnya relatif minim karena kan Pertamax enggak dipakai angkutan barang,” kata Purbaya.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurut Purbaya, sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan perkembangan positif, mulai dari penguatan nilai tukar rupiah, perbaikan kinerja pasar saham, penurunan imbal hasil obligasi, hingga meningkatnya arus masuk investasi asing.
Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya keyakinan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan, terutama apabila ketegangan geopolitik internasional dapat terus mereda.
“Hal ini mengindikasikan market confidence meningkat dengan peluang perdamaian AS dan Iran yang terbuka, diharapkan akan semakin meningkatkan stabilitas nilai tukar, cost of fund semakin kompetitif, investasi semakin menguat dan pada akhirnya momentum pertumbuhan dapat terus diperkuat,” tutur Purbaya.
Purbaya menambahkan bahwa pemerintah melihat tanda-tanda perbaikan kondisi ekonomi setelah melewati berbagai tekanan akibat gejolak global. Oleh karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah menjaga momentum pemulihan dan memperkuat fondasi ekonomi nasional pada semester kedua tahun 2026.
“Saya harap ke depan dengan adanya prospek membaiknya kondisi di perang Iran-Israel dan harga minyak yang mulai rendah, harusnya kita akan lebih baik di paruh kedua tahun ini. Mudah-mudahan hal ini terjadi terus,” imbuhnya.
Pemerintah berharap perkembangan positif di pasar energi internasional dapat memberikan dampak yang menguntungkan bagi masyarakat dan dunia usaha, termasuk melalui potensi penurunan harga BBM nonsubsidi yang selama ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia.
Lan.











