Home / Ekonomi / PLN Proyeksikan Kebutuhan Gas untuk Pembangkit Tumbuh 4,5 Persen Setiap Tahun hingga 2034

PLN Proyeksikan Kebutuhan Gas untuk Pembangkit Tumbuh 4,5 Persen Setiap Tahun hingga 2034

majalahsuaraforum.com – PT PLN (Persero) memperkirakan kebutuhan gas untuk mendukung operasional pembangkit listrik nasional akan terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,5 persen per tahun. Kebutuhan tersebut diproyeksikan naik dari 1.748 billion British thermal unit per day (BBTUD) pada 2026 menjadi 2.490 BBTUD pada 2034.

Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PLN sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia, Rakhmad Dewanto, menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan gas akan diiringi dengan bertambahnya porsi pasokan liquefied natural gas (LNG) dalam bauran energi perusahaan.

Menurut proyeksi PLN, kontribusi LNG terhadap pasokan energi primer akan meningkat dari 57 persen pada 2026 menjadi sekitar 67 persen pada 2034. Perubahan tersebut dinilai akan memperkuat peran LNG dalam menjaga keandalan sistem ketenagalistrikan sekaligus mendukung proses transisi menuju energi yang lebih bersih.

Untuk menjamin kecukupan pasokan energi di masa mendatang, PLN EPI telah memperkuat kerja sama melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah perusahaan energi, yakni West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub.

“Kerja sama tersebut mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD dan kontrak LNG lebih dari 49 juta ton, sehingga memberikan kepastian pasokan energi primer bagi sistem kelistrikan nasional dalam jangka panjang,” ujar Rakhmad.

Selain mengamankan kontrak pasokan, PLN EPI juga mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur LNG di dalam negeri. Program tersebut meliputi pembangunan floating storage and regasification unit (FSRU) di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon.

Di samping itu, perusahaan juga mengembangkan klaster gasifikasi di kawasan Indonesia Timur, sekaligus meningkatkan kapasitas penyimpanan LNG nasional hingga sekitar 1,2 juta meter kubik. Sementara itu, kapasitas regasifikasi ditargetkan mencapai 3.850 million standard cubic feet per day (MMSCFD).

Pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan fleksibilitas distribusi LNG serta memperkuat ketahanan rantai pasok energi nasional di tengah tantangan geopolitik global.

Rakhmad menegaskan bahwa PLN tetap berkomitmen memperbesar pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Namun, menurutnya, sistem kelistrikan nasional juga harus tetap memiliki tingkat keandalan yang tinggi sehingga peran gas alam masih sangat dibutuhkan.

“Kita tetap mendorong peningkatan energi baru dan terbarukan. Namun, sistem kelistrikan juga harus tetap andal. Di sinilah gas memiliki peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan,” kata Rakhmad.

Ia menambahkan, penguatan kontrak pasokan jangka panjang, pembangunan infrastruktur LNG, serta diversifikasi sumber energi primer merupakan bagian dari strategi PLN dalam membangun sistem energi yang tangguh, fleksibel, dan berkelanjutan.

Langkah tersebut juga menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan energi nasional, mempercepat integrasi energi baru terbarukan, mendukung penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG), serta membantu pencapaian target net zero emissions Indonesia.

Menurut Rakhmad, LNG yang berasal dari sumber dalam negeri merupakan bahan bakar fosil dengan tingkat emisi lebih rendah dibandingkan jenis bahan bakar fosil lainnya sehingga memiliki posisi penting dalam menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung proses transisi energi di sektor ketenagalistrikan.

Ia menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan gas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pertumbuhan konsumsi listrik akibat ekspansi sektor industri, elektrifikasi transportasi, pembangunan kawasan ekonomi baru, hingga meningkatnya kebutuhan listrik dari pusat data (data center).

Dalam lima tahun ke depan, kebutuhan listrik yang berasal dari pusat data diperkirakan bertambah sekitar 15 gigawatt.

“Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional,” jelasnya.

Secara keseluruhan, kebutuhan energi primer nasional diperkirakan tumbuh sekitar 2 persen setiap tahun. Sementara itu, permintaan listrik diproyeksikan meningkat lebih cepat, yakni berkisar antara 4,6 hingga 5,4 persen per tahun.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, produksi listrik nasional diperkirakan meningkat dari 304,4 terawatt hour (TWh) menjadi 584,3 TWh. Pada periode yang sama, porsi pembangkit berbahan bakar batu bara diproyeksikan turun menjadi 47 persen, sedangkan kontribusi energi baru terbarukan ditargetkan meningkat hingga 33 persen.

Menutup penjelasannya, Rakhmad menegaskan bahwa LNG akan tetap menjadi komponen penting dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan nasional ketika pembangkit berbasis energi surya maupun angin mengalami fluktuasi produksi.

“Dalam kondisi tersebut, LNG tetap menjadi energi penyeimbang, yang mampu menjaga keandalan sistem ketika pembangkit berbasis surya maupun angin mengalami fluktuasi,” sebut Rakhmad.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh