majalahsuaraforum.com – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok di Jalan M Nasir, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, terus menggenjot program pembinaan warga binaan. Pendidikan, kesehatan mental, keagamaan, keterampilan hingga penguatan ketahanan pangan menjadi sejumlah program yang dijalankan.
Hal tersebut terungkap dalam wawancara dengan petugas bagian pembinaan Rutan Kelas I Depok, Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Rutan Kelas I Depok dipimpin Ario Galih Maduseno sejak Agustus 2026, sementara Humas Rutan Depok dijalankan Yogi.
47 Warga Binaan Lulus Salah satu capaian yang disampaikan pihak Rutan adalah pendidikan kesetaraan. Sebanyak 47 warga binaan disebut telah lulus melalui program Paket A, B dan C.
Rinciannya, tujuh warga binaan lulus Paket A, 17 orang Paket B dan 23 orang Paket C.
Program pendidikan tersebut dilaksanakan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan mitra PKBM Start. Kegiatan belajar mengajar disebut berlangsung tiga kali dalam sepekan dengan kehadiran tenaga pengajar.
Tak hanya pendidikan formal kesetaraan, warga binaan juga mendapat kegiatan English Day. Program ini memanfaatkan warga binaan yang memiliki kemampuan bahasa Inggris untuk membantu peserta lainnya.
Sebelumnya, Rutan juga pernah menggelar pelatihan bahasa Jepang.
Psikologi dan Konseling Pembinaan tidak berhenti pada pendidikan. Persoalan kesehatan mental juga menjadi perhatian.
Rutan menyediakan pojok kesehatan mental untuk warga binaan yang membutuhkan tempat berkonsultasi mengenai persoalan pribadi maupun tekanan selama menjalani masa tahanan.
Program tersebut dilakukan dengan melibatkan pihak yang memiliki latar belakang psikologi, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi.
Salah satu program yang sedang berlangsung melibatkan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kegiatan tersebut bahkan melibatkan keluarga warga binaan dan direncanakan berlangsung dalam lima kali pertemuan.
Menurut petugas, kondisi psikologis warga binaan berbeda-beda. Terutama ketika seseorang baru masuk Rutan dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Karena itu, sharing session dan komunikasi dengan warga binaan menjadi bagian dari pendekatan pembinaan.
Sidak hingga Tes Urine Di sisi keamanan, Rutan juga melakukan inspeksi mendadak secara berkala. Pemeriksaan dilakukan secara internal maupun bersama pihak eksternal.
Dalam beberapa waktu terakhir, sidak disebut dilakukan dua sampai tiga kali dalam sepekan. Kegiatan tersebut juga disertai penyuluhan kepada warga binaan.
Pada 24 September 2026, Rutan menggelar kegiatan bersama TNI, Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN).
Pemeriksaan urine dilakukan terhadap petugas dan warga binaan. Berdasarkan keterangan pihak Rutan, seluruh hasil tes urine pada kegiatan tersebut dinyatakan negatif narkoba.
Namun, bagi pengawasan publik, hasil pemeriksaan tersebut tetap perlu didukung data jumlah orang yang diperiksa dan dokumentasi hasil pemeriksaan agar informasi yang disampaikan dapat diverifikasi.
Dorong Kemandirian Pembinaan juga diarahkan pada keterampilan dan kesiapan warga binaan ketika kembali ke masyarakat.
Program ketahanan pangan menjadi salah satu kegiatan yang sedang berjalan. Selain itu, warga binaan sebelumnya mendapat pelatihan pengolahan kopi.
Produk kopi kemudian ditampilkan melalui area food court Rutan. Produk dari kegiatan ketahanan pangan juga ditampilkan di area tersebut.
Rutan juga pernah memiliki kegiatan keterampilan seperti merajut, meskipun saat ini kegiatan tersebut belum berjalan kembali secara penuh.
Keberhasilan Harus Terukur Pihak pembinaan menyebut keberhasilan program antara lain dilihat dari tingkat kehadiran, antusiasme dan perkembangan warga binaan.
Dalam sejumlah program, terdapat absensi, rapor dan buku monitoring untuk mencatat perkembangan peserta.
Namun, ukuran keberhasilan pembinaan tidak cukup hanya berdasarkan jumlah kegiatan atau jumlah peserta.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana nasib warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
Apakah ijazah yang diperoleh membantu mereka melanjutkan pendidikan? Apakah keterampilan yang diberikan bisa menjadi modal bekerja atau membuka usaha? Dan apakah ada data yang menunjukkan keberlanjutan hasil pembinaan setelah mereka bebas?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembinaan pada akhirnya bukan hanya bertujuan membuat kegiatan selama warga binaan berada di dalam Rutan, tetapi mempersiapkan mereka untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Sekitar 1.100 Warga Binaan Dalam wawancara tersebut, jumlah warga binaan di Rutan Kelas I Depok disebut sekitar 1.100 orang.
Jumlah tersebut membuat aspek keamanan, kesehatan, pendidikan, konseling, serta pembinaan keterampilan membutuhkan pengelolaan yang terukur dan berkelanjutan.
Rutan menyatakan terus mengembangkan inovasi dan menggandeng berbagai mitra untuk memperkuat pembinaan.
Bagi publik, transparansi mengenai jumlah peserta, hasil program, penggunaan anggaran, sertifikasi keterampilan hingga kondisi warga binaan setelah bebas menjadi bagian penting dalam menilai keberlanjutan pembinaan.
Sebab, ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa banyak program yang digelar, melainkan seberapa jauh pembinaan tersebut mampu membekali warga binaan untuk kembali ke masyarakat dengan pendidikan, keterampilan dan kehidupan yang lebih mandiri.
Supriyadi.











