majalahsuaraforum.com – Ratusan mahasiswa bersama berbagai elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi demonstrasi di kawasan Pertigaan Gejayan atau Jalan Affandi, Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah serta membawa sepuluh tuntutan yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.
Sejak dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, aksi berlangsung di tengah hujan yang sempat mengguyur kawasan Gejayan. Namun kondisi cuaca tidak menyurutkan semangat peserta untuk tetap menyampaikan aspirasi mereka.
Aksi ditutup dengan pembacaan tuntutan sekitar pukul 18.05 WIB. Meski demikian, sebagian peserta masih bertahan di lokasi hingga malam hari sebelum akhirnya membubarkan diri secara tertib.
Selain diikuti mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil, demonstrasi tersebut juga mendapat respons dari pengguna jalan yang melintas. Sejumlah pengendara memberikan dukungan simbolis dengan membunyikan klakson kendaraan saat melewati lokasi aksi.
Sepuluh Tuntutan Disampaikan kepada Pemerintah Juru Bicara Forum Cik di Tiro yang menjadi salah satu bagian dari Aliansi Rakyat Memanggil, Marsinah, menjelaskan bahwa aksi tersebut membawa sepuluh tuntutan utama.
Tuntutan tersebut meliputi penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penolakan terhadap Koperasi Desa Merah Putih, pencabutan sejumlah revisi undang-undang yang dianggap bermasalah, hingga desakan untuk mewujudkan pendidikan dan layanan kesehatan gratis yang dapat diakses seluruh masyarakat.
Selain itu, massa juga menuntut peningkatan kesejahteraan rakyat, perlindungan terhadap hak-hak pekerja, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian kriminalisasi terhadap warga yang menyampaikan kritik, serta perlindungan hak masyarakat atas tanah dan ruang hidup.
Aliansi tersebut juga mendesak penuntasan kasus dugaan korupsi yang berkaitan dengan Stadion Mandala Krida di Yogyakarta.
Kritik terhadap Program Strategis Nasional Menurut Marsinah, meskipun terdapat sepuluh tuntutan yang dibawa dalam demonstrasi, terdapat beberapa isu yang menjadi fokus utama massa aksi. Salah satunya adalah keberatan terhadap sejumlah program yang masuk dalam kategori proyek strategis pemerintah.
“Ada beberapa kebijakan yang betul-betul itu mendasari kenapa kemudian kita penting untuk turun. Satu, Prabowo dan Gibran masih terus mendengungkan kebijakan terkait dengan Proyek Strategis Nasional, yaitu MBG, KDMP, dan juga Danantara. Kita tahu tiga proyek besar ini menjadi malapetaka politik buat kita semuanya, bahkan malapetaka politik bagi rakyat Indonesia. Karena, tiga anggaran ini betul-betul mengurangi, bahkan mengancam terhadap terjadinya subsidi kebutuhan dasar rakyat Indonesia,” kata Marsinah.
Ia menilai berbagai program tersebut perlu dievaluasi bahkan dihentikan karena dianggap berpotensi mengurangi alokasi anggaran bagi kebutuhan dasar masyarakat. Aliansi juga meminta pemerintah menghentikan kebijakan yang dinilai merugikan kedaulatan rakyat, termasuk yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan ruang hidup masyarakat.
Soroti Kebebasan Sipil dan Kriminalisasi Kritik Selain persoalan ekonomi dan program pemerintah, massa aksi juga menyoroti isu kebebasan sipil. Mereka meminta pemerintah menjamin hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat tanpa tekanan maupun intimidasi.
Marsinah menyatakan bahwa masyarakat harus memperoleh ruang demokrasi yang aman untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan negara.
“Kita ingin menuntut supaya rezim Prabowo dan Gibran juga melepaskan semua tahanan-tahanan politik yang sampai saat ini masih diproses dan menjamin kebebasan masyarakat sipil, orang muda, siapa pun itu, untuk memberikan suaranya, menyampaikan kritiknya, itu secara aman. Jadi, stop kriminalisasi terhadap suara-suara kritis atas apapun, sehingga rakyat betul-betul mendapatkan demokrasi,” urai Marsinah.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aksi demonstrasi berakhir sekitar pukul 19.30 WIB. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, massa membubarkan diri dan kembali ke kampus maupun daerah masing-masing dengan tertib.
Dw.











