majalahsuaraforum.com — Menghadapi potensi musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal pada tahun 2026, Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat langkah antisipasi dengan menggelar gerakan tanam padi serentak di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Program ini difokuskan untuk meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) guna menjaga kestabilan cadangan pangan nasional sekaligus memperkuat target swasembada pangan berkelanjutan.
Kegiatan yang dipusatkan di Kabupaten Ngawi tersebut mengusung tema “Sawah Bersholawat Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan”, yang memadukan semangat produktivitas pertanian dengan pendekatan sosial dan spiritual masyarakat.
Melalui gerakan ini, pemerintah menargetkan peningkatan LTT hingga 3,4 persen dalam satu hari, atau meningkat dua kali lipat dibanding capaian pada hari sebelumnya.
Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan Jawa Timur, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda simbolis.
“Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4% dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ini bukan seremonial, tetapi gerakan yang harus berdampak nyata,” tegas Yuris melalui siaran persnya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor agar Jawa Timur tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama nasional.
“Kegiatan ini kita dedikasikan untuk menuju Jawa Timur yang makmur. Kita tidak hanya ingin tampil menjadi nomor satu, tetapi harus diiringi dengan peningkatan hasil. Jawa Timur harus selangkah lebih maju. Untuk itu kita harus berjamaah, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sinergi lintas instansi mutlak diperlukan,” ujarnya.
Selain optimalisasi pompa air dan jaringan irigasi, Kementan turut memanfaatkan teknologi digital melalui sistem SIFORTUNA yang dikembangkan BBPOPT. Sistem ini telah terintegrasi dengan dashboard Operation Room dan dipantau langsung oleh Kantor Staf Presiden untuk memonitor potensi ancaman hama tanaman.
“Melalui teknologi ini, potensi serangan OPT dapat diprediksi lebih dini sehingga langkah pengendalian bisa dilakukan secara cepat dan tepat,” tambah Yuris.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur, Denny Kurniawan, menyampaikan optimisme bahwa Jawa Timur mampu menghadapi tantangan iklim, termasuk ancaman El Niño.
“Tanam serentak harus diikuti panen serentak. Kita menghadapi tantangan besar El Nino, namun alhamdulillah Jawa Timur selama enam tahun terakhir tetap menjadi nomor satu nasional,” ucap Denny.
Kabupaten Ngawi kembali menunjukkan perannya sebagai daerah produktif. Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, mengungkapkan bahwa produksi padi di wilayahnya sepanjang 2025 mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka tersebut menempatkan Ngawi sebagai produsen padi terbesar ketiga di Jawa Timur, setelah Lamongan dan Bojonegoro.
Nuansa religius turut mewarnai kegiatan ini melalui keterlibatan unsur masyarakat, termasuk perwakilan LPPNU Jawa Timur, Yayu, yang menyampaikan pesan tentang pentingnya profesi petani.
“Pertanian bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah perempuan. Peran perempuan sangat besar, mulai dari proses tanam hingga menyiapkan kebutuhan keluarga. Mari kita serahkan ikhtiar ini kepada Allah SWT, dan insyaAllah Allah akan membantu kita,” ungkap Yayu.
Di tingkat nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan agenda prioritas yang harus dijalankan secara cepat dan terukur.
“Kita harus bergerak cepat, tepat, dan bersama. Swasembada pangan adalah kebutuhan bangsa yang tidak bisa ditunda,” tegas Mentan Amran.
Langkah percepatan tanam serentak ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memastikan pasokan beras nasional tetap aman di tengah ancaman musim kemarau, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia untuk jangka panjang.
Dw.











