majalahsuaraforum.com – Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan perintah tegas kepada militer AS untuk mengambil tindakan keras terhadap kapal-kapal kecil milik Iran yang dianggap mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Instruksi tersebut disampaikan pada Kamis waktu setempat, hanya sehari setelah Iran kembali menunjukkan kapasitasnya dalam menghambat lalu lintas kapal di selat strategis tersebut. Dalam pernyataannya, Trump memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak kapal apa pun yang diketahui memasang ranjau di wilayah perairan tersebut.
Langkah ini menandai meningkatnya eskalasi antara Washington dan Teheran, terutama di jalur laut yang menjadi salah satu titik paling vital bagi distribusi energi dunia. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur utama bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam global.
Dalam unggahannya di media sosial Truth Social, Trump menegaskan arah kebijakan militernya dengan pernyataan yang sangat keras.
“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, meskipun kapal kecil sekalipun, yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz,”
Ia juga menambahkan bahwa kapal penyapu ranjau milik Amerika saat ini sedang beroperasi di kawasan tersebut untuk membersihkan jalur pelayaran.
“Dengan ini saya memerintahkan agar aktivitas tersebut dilanjutkan, tetapi dengan intensitas tiga kali lipat!”
Pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP), disampaikan pada Jumat (24/4/2026).
Perintah Trump muncul tidak lama setelah militer Amerika Serikat menyita sebuah kapal tanker lain yang diduga berkaitan dengan aktivitas penyelundupan minyak Iran. Penyitaan tersebut semakin memperburuk hubungan kedua negara yang dalam beberapa waktu terakhir terus berada dalam tensi tinggi.
Di sisi lain, Trump juga mengumumkan perkembangan lain terkait konflik di kawasan Timur Tengah, yakni keputusan untuk memperpanjang gencatan senjata di Lebanon selama tiga pekan ke depan. Kebijakan itu diambil usai pertemuan di Gedung Putih bersama duta besar Israel dan Lebanon untuk Amerika Serikat.
Keputusan tersebut dinilai sebagai upaya Washington menjaga stabilitas di kawasan lain, di tengah meningkatnya konflik di sekitar Selat Hormuz dan memanasnya hubungan dengan Iran.
Dengan perkembangan terbaru ini, perhatian dunia internasional kini tertuju pada respons Iran serta dampaknya terhadap stabilitas harga energi global dan keamanan jalur pelayaran internasional.
Red.











