Home / Kabar Berita / Untuk Pertama Kalinya, Amerika Serikat Menghadapi Tekanan Nuklir Bersamaan dari Rusia dan China

Untuk Pertama Kalinya, Amerika Serikat Menghadapi Tekanan Nuklir Bersamaan dari Rusia dan China

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Amerika Serikat saat ini tengah menghadapi tantangan keamanan global yang dinilai paling serius dalam sejarah modernnya. Untuk pertama kalinya, Washington harus menghadapi ancaman pencegahan nuklir secara simultan dari dua kekuatan besar dunia, yakni Rusia dan China, di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas dan hubungan dengan sekutu NATO yang mulai menunjukkan keretakan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Asisten Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk Program Pertahanan Nuklir, Kimia, dan Biologi, Robert Kadlec, dalam sidang yang berlangsung di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat. Dalam keterangannya, Kadlec menegaskan bahwa kondisi yang dihadapi AS saat ini bukan lagi sekadar potensi ancaman di masa mendatang, melainkan sebuah krisis nyata yang sedang berlangsung.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya, Amerika Serikat akan menghadapi tantangan untuk mencegah dua negara yang memiliki senjata nuklir, China dan Rusia, secara bersamaan, serta kekuatan regional dengan kemampuan yang semakin meningkat,” kata Kadlec, seperti dikutip dari EurAsian Times, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan bahwa situasi ini menandai babak baru dalam dinamika keamanan dunia yang jauh lebih berbahaya dibandingkan periode-periode sebelumnya.

“Ini bukan masalah hipotetis di masa depan. Ini adalah krisis saat ini. Kita berada di era baru dan lebih berbahaya,” paparnya.

Menurut Kadlec, pemerintah Amerika Serikat akan terus memperkuat kerja sama strategis dengan negara-negara sekutu di NATO guna menjaga kredibilitas serta efektivitas misi pencegahan nuklir aliansi tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan keseimbangan kekuatan di tengah meningkatnya kemampuan militer Rusia dan China.

Namun demikian, di tengah upaya memperkuat pertahanan bersama, hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa justru tengah diuji. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran disebut telah membuka celah perbedaan sikap di dalam aliansi transatlantik.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap negara-negara sekutu Eropa yang dianggap tidak memberikan dukungan militer secara maksimal saat terjadi konflik dengan Iran. Ia bahkan menilai bahwa selama ini Amerika Serikat terlalu banyak memikul tanggung jawab dalam pertahanan kolektif NATO.

Trump melontarkan kritik keras dengan menyebut NATO sebagai “macan kertas”. Menurutnya, aliansi tersebut tidak memberikan kontribusi yang sepadan dengan beban yang ditanggung Amerika Serikat.

“Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka adalah macan kertas, dan [Presiden Rusia Vladimir] Putin juga tahu itu,” kata Trump kepada surat kabar Telegraph dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada awal April.

Selain itu, Trump juga menyampaikan pernyataan serupa melalui media sosial, yang semakin mempertegas ketidakpuasannya terhadap NATO.

“NATO tidak ada di sana ketika kita membutuhkannya, dan mereka tidak akan ada di sana jika kita membutuhkannya lagi.”

Pernyataan tersebut memicu perhatian luas karena menyentuh prinsip utama NATO, yakni pertahanan kolektif. Prinsip ini tertuang dalam Pasal 5, yang menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota NATO dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Meski menjadi fondasi utama aliansi, Pasal 5 dalam sejarahnya baru pernah diterapkan satu kali, yakni setelah serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Situasi yang kini dihadapi Washington memperlihatkan perubahan besar dalam peta kekuatan global. Ancaman simultan dari Rusia dan China, ditambah dinamika internal NATO, menjadikan posisi Amerika Serikat berada dalam tekanan strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa dunia telah memasuki fase baru dalam persaingan geopolitik, di mana keseimbangan kekuatan nuklir menjadi salah satu isu paling menentukan dalam menjaga stabilitas internasional.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh