Home / Ekonomi / Pemerintah Genjot BBM Campuran Etanol hingga E20 untuk Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

Pemerintah Genjot BBM Campuran Etanol hingga E20 untuk Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

majalahsuaraforum.com – Pemerintah Indonesia tengah mempercepat pengembangan bahan bakar berbasis biofuel sebagai respons terhadap tekanan krisis energi global. Presiden Prabowo Subianto mengarahkan penggunaan campuran etanol dalam bensin hingga mencapai 20% atau dikenal sebagai E20, yang direncanakan menjadi alternatif pengganti BBM jenis Pertalite (RON 90) dan Pertamax (RON 92).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah gejolak geopolitik global seperti konflik Iran–Israel yang berdampak pada pasokan minyak dunia.

“Mimpi kita E20, ethanol campuran bensin 20% dari jagung, ubi, dan tebu. Iya, itu menggantikan (Pertalite dan Pertamax), itu belum mobil listrik. Tetapi itu kementerian lain, yang kita bahas adalah energi dari biofuel,” ujar Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026).

Optimalkan Bahan Baku Dalam Negeri Amran menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam penyediaan bahan baku etanol, seperti molases atau tetes tebu, yang selama ini justru banyak diekspor. Ia menyebut volume ekspor molases mencapai sekitar 1 juta ton.

Pemerintah berencana mengalihkan pemanfaatan komoditas tersebut untuk produksi energi dalam negeri. Selain itu, langkah konkret akan segera dilakukan dengan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan dalam pengelolaan dan distribusi bahan baku biofuel.

“Bahan baku kita yang kita ekspor, itu ada 1 juta ton itu molases, tetes (tebu). Nah tadi kita, minggu depan sudah kita tetapkan. Sudah tetapkan masing-masing BUMN pangan,” jelasnya.

Dorong Kemandirian Energi Lewat Biodiesel Selain etanol, pemerintah juga terus melanjutkan program biodiesel berbasis kelapa sawit. Program ini ditargetkan mampu menggantikan impor solar melalui implementasi biodiesel B50.

Menurut Amran, penggunaan biodiesel sawit diperkirakan mencapai 5,3 juta ton dan akan menekan ketergantungan impor energi fosil. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mencapai swasembada energi sekaligus memperkuat sektor pertanian dan industri dalam negeri.

“Kita menyetop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton. Itu tahun ini kita tidak impor. Dan itu selesai. Nah ini kita kencang. Ini ada hikmah. Kondisi geopolitik yang memanas itu ada hikmahnya bagi Indonesia,” tegasnya.

Respons terhadap Krisis Energi Global Langkah percepatan biofuel ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menghadapi dampak krisis energi global yang dipicu ketegangan geopolitik. Selain menjaga stabilitas pasokan energi, kebijakan ini juga diharapkan mampu menekan harga BBM serta meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional.

Dengan strategi ini, Indonesia tidak hanya berupaya mengurangi ketergantungan pada impor energi, tetapi juga memanfaatkan potensi sumber daya domestik untuk menciptakan sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh