majalahsuaraforum.com – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman melayangkan kritik terhadap PT PLN (Persero) menyusul terjadinya rangkaian pemadaman listrik bergilir di berbagai daerah sepanjang Juni 2026. Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya dapat diantisipasi lebih awal apabila pembenahan manajemen rantai pasok perusahaan dilakukan secara serius.
Maman mengungkapkan bahwa persoalan potensi pemadaman listrik sebenarnya telah menjadi perhatian sejak dirinya masih bertugas sebagai anggota Komisi VII DPR RI. Saat itu, ia bersama sejumlah pihak telah mengingatkan perlunya transformasi dalam sistem pengelolaan pasokan energi agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Ini yang dari dahulu saya selalu bilang karena saya pernah ada di DPR Komisi VII. Dahulu kita sudah dorong bahwa potensi blackout yang 3 tahun lalu ini berpotensi terjadi lagi, kalau supply chain management yang ada di PLN itu tidak segera dibenahi,” tegas Maman saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Maman, salah satu penyebab utama persoalan pasokan listrik masih berkaitan dengan perbedaan harga batu bara antara pasar ekspor dan kebutuhan dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Perbedaan harga tersebut membuat perusahaan tambang lebih memilih menjual batu bara ke pasar internasional karena memberikan keuntungan yang lebih besar.
Untuk mengatasi persoalan tersebut dalam jangka panjang, Maman kembali mengusulkan pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) Batu Bara. Lembaga tersebut diharapkan dapat menciptakan mekanisme yang lebih adil antara kebutuhan ekspor dan pemenuhan pasokan domestik sehingga ketersediaan batu bara bagi pembangkit listrik nasional tetap terjaga.
“Supaya ada prinsip keadilan. Misalnya bagi mereka yang mau ekspor, ya monggo aja. Tetapi misalnya harga ekspor US$ 80. Lalu, harga domestik US$ 50. Ada selisih sekitar US$ 30. Nah, nanti mereka yang ekspor itu diambil selisihnya untuk mencuci mereka yang memenuhi kebutuhan domestik. Dahulu kita ada usulan seperti itu,” jelas Maman.
Ia menilai gangguan pasokan listrik memberikan dampak yang sangat besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Banyak usaha yang sangat bergantung pada listrik sehingga pemadaman dapat langsung mengganggu operasional dan mengakibatkan kerugian.
“Yang jualan di daerah, misalnya mereka yang jualan es. Pada saat mati listrik, esnya cair sehingga mereka tidak bisa jualan,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi. Ia menilai pemadaman listrik berskala besar menimbulkan dampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi, terutama pelaku UMKM yang tidak memiliki fasilitas pembangkit listrik cadangan.
“Bagi UMKM yang tidak punya genset, ya dia hanya bisa menerima nasib. Misalnya pengusaha konveksi, dia sudah punya kontrak dan kesepakatan harus menyetor jumlah tertentu, tetapi dengan mati listrik dia tidak bisa melanjutkan produksi. Akhirnya tidak bisa memenuhi kontrak dan dikenakan denda atau kontraknya dibatalkan. Atau pedagang ikan hias, airnya harus menggunakan listrik. Kalau listrik padam, banyak ikannya yang mati dan dia rugi sangat besar,” tutur Fahmy.
Selain berdampak terhadap pelaku usaha, Fahmy juga mengingatkan bahwa gangguan pasokan listrik dapat menurunkan kepercayaan investor terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi.
“Mereka akan melihat, ‘Oh ternyata di Indonesia kekurangan pasokan listrik, mengapa saya harus investasi di sini?’ Investasi di Indonesia menjadi tidak menarik. Listrik padam selama tiga jam saja, kerugiannya sudah sangat besar,” ucapnya.
Sebagai langkah antisipasi, Fahmy mendorong PLN memperkuat safety stock atau cadangan batu bara sekaligus menyiapkan pembangkit listrik cadangan. Menurutnya, kedua langkah tersebut penting untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional apabila terjadi gangguan teknis maupun hambatan pasokan bahan baku.
Ia juga menilai infrastruktur yang dimiliki PLN saat ini sebenarnya telah memenuhi standar internasional. Namun, pemeliharaan fasilitas serta pengelolaan rantai pasok masih perlu terus ditingkatkan agar target bebas pemadaman dapat tercapai.
“PLN juga mempunyai digital monitoring system untuk memantau setiap pembangkit maupun jaringan distribusi. Sebenarnya itu sudah cukup bagus, tetapi memang perlu ditingkatkan lagi maintenance-nya agar mencapai target nol pemadaman. Dan yang penting tadi supply chain management-nya jangan sampai kekurangan pasokan,” jelasnya.
Fahmy menambahkan bahwa hingga saat ini pembangkit listrik nasional masih sangat bergantung pada batu bara. Sekitar 56 persen kebutuhan listrik Indonesia masih dipenuhi dari sumber energi tersebut karena dinilai paling ekonomis dibandingkan gas, bahan bakar minyak, maupun energi baru dan terbarukan.
Menurutnya, meskipun batu bara tergolong sebagai sumber energi yang kurang ramah lingkungan, keberlangsungan pasokannya tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan nasional.
“Batu bara paling murah dan paling cepat digunakan untuk pemanasan PLTU, meskipun batu bara termasuk energi yang kotor. Maka faktor pasokan batu bara ini harus menjadi perhatian baik pemerintah maupun PLN itu sendiri,” pungkas Fahmy.
Lan.











