majalahsuaraforum.com – Fenomena sinkhole atau amblesan tanah yang membentuk lubang besar di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, menjadi perhatian serius Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Melalui kajian yang dilakukan di lokasi, Badan Geologi memaparkan dua pendekatan utama yang dapat ditempuh untuk menangani kejadian tersebut, yakni membiarkan sinkhole berkembang secara alami atau melakukan langkah pencegahan agar lubang tidak semakin melebar.
Ahli Geologi Teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, menjelaskan bahwa kedua opsi tersebut memiliki konsekuensi teknis yang harus dipertimbangkan secara matang.
“Pertama, dibiarkan terbuka atau melebar secara alami, dan kedua dilakukan upaya pencegahan agar tidak meluas,” ujar Taufiq, Minggu (8/2/2026).
Opsi Pertama: Sinkhole Dibiarkan Terbuka Secara Alami Dalam opsi pertama, Badan Geologi menekankan bahwa lubang sinkhole tidak boleh ditutup sembarangan. Sebaliknya, diperlukan perhitungan stabilitas dinding lubang serta penentuan radius aman di sekitar area tersebut.
Selain itu, air yang keluar dari sinkhole harus diarahkan melalui sistem drainase yang baik, bukan dibiarkan meresap kembali ke tanah di sekitar lokasi. Air tersebut sebaiknya dialirkan menuju area yang lebih stabil, seperti sungai di bagian hilir.
Air yang berasal dari sinkhole juga dinilai berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku masyarakat, namun tetap harus melalui kajian kelayakan lebih lanjut.
Opsi Kedua: Pencegahan Agar Lubang Tidak Membesar Sementara itu, pendekatan kedua bertujuan mencegah sinkhole semakin melebar. Untuk langkah ini, keterlibatan ahli teknik sipil diperlukan guna memperkuat tebing melalui rekayasa teknis.
Perencanaan penanganan juga harus mempertimbangkan debit air yang mengalir di sungai bawah tanah agar kestabilan wilayah hulu maupun hilir tetap terjaga.
Langkah Mitigasi dan Pengurangan Risiko Dalam kajian cepat yang dirilis Badan Geologi, terdapat sejumlah langkah pengurangan risiko yang perlu dilakukan masyarakat, antara lain:
Mengenali tanda-tanda awal terbentuknya sinkhole.
Mengurangi peresapan air berlebihan ke dalam tanah, khususnya di area yang diduga memiliki aliran sungai bawah tanah.
Memilih tanaman yang tidak membutuhkan banyak air di kawasan rawan.
Memastikan saluran air rumah tangga tidak merembes ke tanah yang berpotensi ambles.
Imbauan: Jangan Percaya Mitos Air Sinkhole Taufiq juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada klaim bahwa air dari sinkhole memiliki khasiat khusus atau bersifat mistis.
Berdasarkan uji laboratorium, air tersebut memiliki karakteristik yang sama seperti air pada umumnya.
“Air berwarna biru adalah fenomena alam dan bukan hal mistis,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa warna biru pada air muncul akibat partikel kecil atau zat terlarut yang menghamburkan gelombang cahaya biru sehingga tertangkap oleh mata manusia.
Dengan adanya dua opsi penanganan ini, Badan Geologi berharap mitigasi sinkhole di Sumatera Barat dapat dilakukan secara tepat dan aman demi melindungi masyarakat sekitar.
Dw.











