Home / Hukum - Kriminal / Rekan Usaha Jadi Pelaku, Kasus Tewasnya Herlan di Gumuk Pasir Parangtritis Terkuak

Rekan Usaha Jadi Pelaku, Kasus Tewasnya Herlan di Gumuk Pasir Parangtritis Terkuak

majalahsuaraforum.com – Kasus kematian Herlan Matrusdi (68), warga Cakung, Jakarta Timur, yang ditemukan tak bernyawa di kawasan gumuk pasir Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, mulai menemukan titik terang. Kepolisian memastikan Herlan menjadi korban pembunuhan dan telah menetapkan dua orang tersangka yang diketahui memiliki hubungan bisnis dengan korban.

Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengungkapkan bahwa dua tersangka tersebut masing-masing berinisial RM (42), warga Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, dan FM (61), warga Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Keduanya kini telah resmi ditahan di Polres Bantul.

“Dari hasil pemeriksaan, Polres Bantul sudah menetapkan 2 orang terduga pelaku sebagai tersangka dalam perkara pembunuhan dan atau tindak pidana kekerasan secara bersama-sama di muka umum (pengeroyokan) terhadap orang hingga meninggal dunia,” kata Rita saat dihubungi, Jumat (30/1/2026).

Hubungan Bisnis Masih Didalami Menurut Rita, baik korban maupun kedua tersangka diketahui menjalin hubungan bisnis. Namun, hingga saat ini polisi belum mengungkap secara detail jenis usaha yang menghubungkan mereka. Pihak kepolisian masih mendalami apakah relasi bisnis tersebut menjadi pemicu terjadinya tindak kekerasan yang berujung pada kematian Herlan.

“Dari informasi sementara, pelaku dan korban ada hubungan bisnis. Pelaku dan korban memang ada hubungan bisnis, tapi apa itu yang jadi penyebabnya masih diselidiki,” sambungnya.

Latar Belakang Korban Berdasarkan penelusuran, Herlan Matrusdi diketahui pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DKI Jakarta. Ia ditemukan meninggal dunia di kawasan gumuk pasir Parangtritis pada Rabu (28/1/2026), dan awalnya kematiannya sempat dikabarkan akibat sakit.

Namun, hasil penyelidikan mengarah pada dugaan kuat adanya tindak kekerasan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Kesaksian Keluarga dan Gelagat Tak Biasa Putri ketiga korban, Wiwin Puji Astuti (37), mengungkapkan bahwa ayahnya menunjukkan sejumlah kejanggalan sebelum ditemukan tewas. Ia terakhir kali bertemu Herlan pada Agustus 2025, saat ayahnya pulang ke rumah di Cakung untuk mengambil pakaian dan sejumlah dokumen penting.

“Posisinya sudah mau berangkat lagi. Papa minta ongkos, pesan Grab, lalu ke Terminal Pulo Gebang. Entah mau ke mana dan sama siapa, saya tidak tahu. Itu terakhir saya ketemu,” ujar Wiwin, Kamis (29/1/2026).

Sejak saat itu, komunikasi Herlan dengan keluarga menjadi tidak lancar. Nomor telepon yang digunakan kerap berganti, bahkan korban sempat kehilangan ponselnya dan berkomunikasi menggunakan nomor milik seseorang bernama Feri.

Komunikasi lebih sering dilakukan melalui pesan singkat karena panggilan telepon jarang direspons. Kecurigaan keluarga meningkat ketika beredar kabar di grup RT bahwa Herlan meninggal dunia akibat sakit ginjal dan terjatuh di kamar mandi pada Jumat (23/1).

Bantahan Kabar Sakit dan Kondisi Janggal Wiwin kemudian menghubungi nomor yang biasa digunakan ayahnya. Panggilan tersebut sempat diangkat.

“Alhamdulillah diangkat. Saya yakin itu suara Papa. Kondisinya memang agak lemah, tapi beliau bilang sehat, cuma sariawan. Papa bilang hari Senin pulang dan akan cerita semuanya,” kata Wiwin.

Namun, keesokan harinya, Wiwin menerima foto yang menunjukkan kondisi jasad ayahnya dengan sejumlah luka mencolok, seperti mata lebam, rahang membengkak, dan hidung tertutup kapas. Narasi yang beredar saat itu menyebutkan Herlan meninggal karena gagal ginjal, bahkan sempat muncul penggalangan dana atas nama korban.

Saat Wiwin menghubungi nomor yang mengatasnamakan kontak Pordasi serta Feri, jawaban yang diterima selalu menyebut bahwa Herlan dalam kondisi baik-baik saja.

Mobilitas Tinggi dan Misteri Aktivitas Korban Disebutkan pula bahwa selama berbulan-bulan tidak pulang ke rumah, Herlan kerap berpindah-pindah lokasi, mulai dari Kediri hingga Malang. Namun, setiap kali diminta membagikan lokasi keberadaannya, korban selalu menolak.

Wiwin mengungkapkan bahwa ayahnya sempat menyampaikan sedang terlibat dalam sebuah urusan berisiko.

“Beliau pernah bilang sedang ikut seseorang untuk memecahkan sebuah kasus. Cukup berbahaya. Katanya Bapak dibekingi seseorang jadi aman,” tuturnya.

Luka-luka pada Jasad dan Autopsi Wiwin juga mengenang kondisi terakhir ayahnya yang ia lihat melalui foto.

“Ada lebam di mata, pelipis kanan sobek, telinga mengeluarkan darah, rahang bengkak, lebam di punggung, dan ada luka lama di lutut,” ucapnya lirih.

Saat ini, pihak keluarga telah berada di Yogyakarta dan masih menunggu hasil resmi autopsi dari tim kedokteran forensik guna mengungkap penyebab pasti kematian Herlan Matrusdi.

Hil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh