Home / Ekonomi / Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Berpotensi Bangkitkan Perekonomian Aceh, Sumut, dan Sumbar

Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Berpotensi Bangkitkan Perekonomian Aceh, Sumut, dan Sumbar

majalahsuaraforum.com – Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang tengah berlangsung di sejumlah wilayah terdampak di Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mendorong pemulihan sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah. Hal tersebut disampaikan oleh pakar ekonomi Universitas Andalas (Unand), Efa Yonnedi, dalam menanggapi prospek ekonomi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir 2025.

Menurut Efa, masuknya fase rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan momentum penting yang dapat menggerakkan kembali aktivitas ekonomi daerah. Salah satu faktor utama pendorongnya adalah meningkatnya belanja pemerintah di berbagai sektor strategis, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pemulihan layanan publik.

“Dengan dimulainya kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi, akan muncul pertumbuhan ekonomi yang bersumber dari belanja,” Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa pola pemulihan ekonomi pascabencana umumnya memang diawali dengan tekanan terhadap pertumbuhan. Namun kondisi tersebut bersifat sementara dan hampir selalu terjadi di wilayah yang mengalami bencana berskala besar.

Efa mencontohkan pengalaman Sumatera Barat pascagempa bumi tahun 2009. Pada periode awal bencana, perekonomian daerah mengalami perlambatan akibat terganggunya aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi. Akan tetapi, seiring dimulainya tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi, pertumbuhan ekonomi berangsur menunjukkan perbaikan.

“Pada tahap awal, pertumbuhan ekonomi biasanya turun. Namun ketika belanja rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat,” jelasnya.

Mantan konsultan Bank Dunia tersebut menilai bahwa kondisi serupa berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat saat ini. Selama program rehabilitasi dan rekonstruksi dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, maka aktivitas ekonomi lokal akan kembali bergerak, termasuk di sektor konstruksi, perdagangan, jasa, dan tenaga kerja.

Efa yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Andalas menyatakan optimisme bahwa perekonomian di ketiga provinsi terdampak dapat kembali pulih dan tumbuh seiring berjalannya program pemulihan yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua wilayah memiliki tingkat kerusakan yang sama. Beberapa daerah dengan dampak paling parah membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang serta dukungan kebijakan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Ia secara khusus menyoroti kondisi di Kabupaten Aceh Tamiang, yang dinilai menghadapi tantangan pemulihan paling berat dibandingkan daerah lainnya.

“Untuk wilayah Aceh, tantangannya memang lebih berat. Diperlukan waktu sekitar tiga tahun agar logistik dan infrastruktur ekonomi bisa kembali normal,” pungkasnya.

Dengan mempertimbangkan pengalaman masa lalu serta besarnya peran belanja pemerintah dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi, Efa meyakini bahwa proses pemulihan ekonomi pascabencana dapat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka menengah dan panjang di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh