Home / Ekonomi / Pelemahan Rupiah Mulai Bebani UMKM, Perajin Tahu dan Tempe Jadi Sektor yang Paling Terdampak

Pelemahan Rupiah Mulai Bebani UMKM, Perajin Tahu dan Tempe Jadi Sektor yang Paling Terdampak

majalahsuaraforum.com – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan terhadap sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya mereka yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi tersebut diakui langsung oleh Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menurut Maman, meskipun dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor usaha, terdapat beberapa bidang yang mulai mengalami tekanan cukup signifikan akibat meningkatnya biaya produksi.

“Terlepas dari apa pun. Namun kita juga harus mengakui bahwa tentunya ada dampak di beberapa sektor tertentu terhadap UMKM kita,” kata Maman kepada wartawan di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Salah satu sektor yang paling merasakan dampak tersebut adalah industri tahu dan tempe. Maman menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai masih sangat tinggi, sehingga setiap pelemahan nilai tukar rupiah akan langsung memengaruhi harga bahan baku yang digunakan para perajin.

“Sampai saat ini kalau kita lihat, yang sekarang muncul kan perajin tempe, tahu kita. Karena memang ketergantungan kita terhadap bahan baku impor kedelai memang tinggi di situ,” ujarnya.

Selain kedelai, tekanan juga dirasakan pada sektor yang menggunakan bahan baku plastik. Kenaikan harga impor akibat penguatan dolar AS dinilai dapat meningkatkan biaya operasional sekaligus mengurangi keuntungan yang diperoleh pelaku usaha.

Meski demikian, pemerintah memastikan tidak akan membiarkan pelaku UMKM menghadapi situasi tersebut sendirian. Kementerian UMKM terus melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga terkait, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia, guna mencari langkah-langkah mitigasi yang tepat.

“Kita sadar, kita mengerti dan memahami bahwa tentunya ada impact. Namun yang terpenting kami pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus melakukan mitigasi untuk mencegah dan mengantisipasi dampak-dampak yang memang bisa berdampak kepada UMKM kita,” terang Maman.

Ia menambahkan bahwa pemerintah bersama otoritas ekonomi nasional terus berupaya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap pelaku usaha tidak semakin besar. Stabilitas kurs dianggap penting karena berkaitan langsung dengan harga bahan baku impor yang masih dibutuhkan oleh berbagai sektor UMKM.

Maman juga menilai kondisi pasar mulai menunjukkan perbaikan setelah rupiah sempat berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan perkembangan terbaru, mata uang Indonesia mulai bergerak menguat.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa pada perdagangan pasar spot Rabu (10/6/2026) pukul 09.20 WIB, rupiah menguat 101 poin atau sekitar 0,56 persen ke posisi Rp17.957 per dolar AS.

Perbaikan sentimen pasar juga terlihat dari kinerja pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pukul 09.31 WIB tercatat naik 95,42 poin atau sekitar 1,66 persen ke level 5.842. Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (9/6/2026), IHSG berhasil melonjak 7,57 persen dan ditutup di level 5.746,648.

“Kalau teman-teman lihat, tren dari tadi malam sampai per hari ini, rupiah kita sudah mulai menguat, sudah mulai rebound kembali dan IHSG kita juga sudah mulai naik di angka 5%,” ungkap Maman.

Pemerintah berharap penguatan rupiah dan membaiknya kondisi pasar keuangan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap pelaku UMKM, terutama yang masih mengandalkan bahan baku impor dalam proses produksinya.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh