Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas. Serangan militer yang terus berlangsung di wilayah Lebanon selatan dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.700 orang sejak awal Maret 2026.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban jiwa akibat operasi militer Israel sejak 2 Maret telah mencapai sedikitnya 2.702 orang, dengan 8.311 lainnya mengalami luka-luka. Angka ini menunjukkan dampak besar dari konflik yang terus berlanjut tanpa tanda mereda.
Serangan Terbaru Targetkan Permukiman dan Fasilitas Umum Dalam perkembangan terbaru, serangan udara kembali terjadi pada Selasa malam (5/5) hingga Rabu pagi (6/5). Sejumlah wilayah di Lebanon selatan menjadi sasaran, termasuk desa dan kota yang dihuni warga sipil.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai empat lainnya. Selain itu, serangan terpisah juga menyasar petugas paramedis dari Otoritas Kesehatan Islam di wilayah Deir Kifa, mengakibatkan tiga tenaga medis mengalami luka.
Tak hanya korban jiwa, kerusakan infrastruktur juga terus terjadi. Di Kota Qlaileh, wilayah Nabatieh, serangan udara menyebabkan sebuah sekolah negeri mengalami kerusakan berat.
Rentetan Serangan dalam Beberapa Hari Terakhir Serangan terbaru ini merupakan bagian dari rangkaian operasi militer Israel yang intens dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, dalam kurun waktu 24 jam antara Minggu (3/5) hingga Senin (4/5), serangan serupa dilaporkan telah menewaskan 17 orang.
Situasi ini menandai meningkatnya intensitas konflik meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan gencatan senjata.
Gencatan Senjata Tidak Efektif Kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 17 April, yang dimediasi oleh Amerika Serikat, tampaknya gagal meredam kekerasan. Serangan demi serangan masih terjadi, menunjukkan bahwa implementasi perjanjian tersebut belum berjalan efektif di lapangan.
Akar Konflik dan Dampaknya Israel menyatakan bahwa operasi militernya di Lebanon merupakan respons atas serangan lintas batas oleh kelompok bersenjata Hizbullah. Konflik ini sendiri merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan besar yang melibatkan Iran.
Sejak konflik meluas, lebih dari 1,6 juta warga Lebanon dilaporkan mengungsi akibat serangan yang menghancurkan banyak desa dan kota di wilayah selatan negara tersebut.
Selain dampak kemanusiaan, konflik ini juga memicu efek global, termasuk kenaikan harga energi yang mendorong sejumlah negara menetapkan status darurat energi.
Red.











