majalahsuaraforum.com – Di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan global, Indonesia mengambil langkah strategis dengan mempererat kerja sama bilateral bersama Polandia guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Upaya tersebut ditandai dengan pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dan Wakil Menteri Pertanian Polandia Małgorzata Gromadzka di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Sudaryono menegaskan bahwa Indonesia tetap membuka diri terhadap kerja sama internasional, termasuk memanfaatkan peluang dari perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa sebagai bagian dari penguatan sistem pangan nasional.
“Indonesia adalah negara yang terbuka. Kita nonblok dan kita bekerja sama dengan siapa pun, termasuk dalam hal ekspor impor serta peluang investasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Menurut Sudaryono, tekanan global yang dipicu konflik geopolitik, perang, serta gangguan rantai pasok menuntut adanya kerja sama yang lebih konkret antarnegara. Kerja sama tersebut tidak hanya mencakup perdagangan, tetapi juga pembukaan akses pasar, penyederhanaan persyaratan teknis, hingga penguatan investasi dan riset di sektor pertanian.
“Dalam situasi sulit seperti sekarang, peran kerja sama bilateral menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masing-masing negara,” jelasnya.
Pada pembahasan teknis, kedua pihak mendiskusikan peluang perdagangan sejumlah komoditas strategis. Polandia mendorong ekspor beberapa produk unggulan ke Indonesia, seperti daging sapi, produk susu, gandum, serta buah beri.
Di sisi lain, Indonesia menegaskan pentingnya pemenuhan standar kesehatan, sertifikasi veteriner, serta proses audit sebelum akses pasar dapat dibuka secara resmi.
Pemerintah Indonesia juga mengambil langkah hati-hati terhadap komoditas tertentu, khususnya produk unggas, dengan mempertimbangkan aspek keamanan hayati serta perlindungan terhadap produksi domestik. Meski demikian, peluang tetap terbuka bagi komoditas lain yang memenuhi standar teknis dan sesuai kebutuhan pasar dalam negeri.
Sudaryono menekankan bahwa sektor pertanian memiliki posisi yang sangat strategis karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Agrikultur sangat penting karena berkaitan dengan makanan. Bagaimana kita mengamankan pangan untuk Indonesia, dan juga bagaimana negara lain menjaga kebutuhan mereka,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Indonesia dan Polandia sepakat membentuk kelompok kerja teknis untuk mempercepat penyelesaian protokol perdagangan, terutama untuk komoditas daging sapi dan produk susu. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat proses audit, harmonisasi standar, serta implementasi perdagangan secara langsung.
Selain itu, ruang kerja sama juga akan diperluas melalui pertemuan antar pelaku usaha, penjajakan investasi, hingga peluang penandatanganan nota kesepahaman antar pemerintah sebagai dasar kemitraan jangka panjang.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Polandia Małgorzata Gromadzka menilai hubungan kerja sama dengan Indonesia memiliki prospek yang sangat besar karena kedua negara memiliki karakteristik produksi yang saling melengkapi.
“Saya sangat senang bisa berdiskusi tentang kerja sama produk agrikultur. Kita memiliki banyak kesamaan untuk kerja sama yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi strategis Polandia sebagai pintu masuk menuju pasar Eropa, sekaligus melihat Indonesia sebagai mitra penting di kawasan Asia.
“Polandia bisa menjadi jendela bagi Indonesia ke Uni Eropa, dan Indonesia juga bisa menjadi pintu masuk bagi Polandia ke pasar Asia,” pungkasnya.
Dw.











