majalahsuaraforum.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan terbaru terkait dampak banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada akhir November 2025. Hingga pertengahan Januari 2026, total korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.189 orang, sementara 141 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Data tersebut mencakup tiga provinsi terdampak utama, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berdasarkan hasil pemutakhiran laporan hingga awal pekan ini.
Rincian Korban Jiwa per Provinsi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa korban meninggal dunia tersebar di sejumlah wilayah dengan rincian sebagai berikut:
Provinsi Aceh: 550 jiwa
Sumatera Utara: 375 jiwa
Sumatera Barat: 231 jiwa
Selain itu, terdapat 33 korban yang masih dalam tahap identifikasi, baik terkait identitas maupun lokasi penemuan jenazah.
Ratusan Ribu Warga Terdampak dan Mengungsi Bencana hidrometeorologi tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak besar terhadap kehidupan sosial masyarakat. BNPB mencatat sebanyak 195.542 jiwa terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah, putusnya akses transportasi, serta ancaman bencana lanjutan.
Dari seluruh wilayah terdampak, Kabupaten Aceh Utara menjadi daerah dengan jumlah pengungsi paling tinggi, yakni mencapai 67.876 jiwa. Kondisi ini dipengaruhi oleh luasnya area banjir, kerusakan infrastruktur, serta terganggunya jalur distribusi logistik dan layanan dasar.
Status Darurat Diperpanjang, Pemulihan Dipercepat Abdul Muhari menjelaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pembaruan data selama masa tanggap darurat berlangsung. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah juga telah memperpanjang status tanggap darurat di enam kabupaten di Provinsi Aceh, sekaligus mendorong percepatan pemulihan pada fase transisi darurat menuju rehabilitasi di puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dalam fase tersebut, pemulihan infrastruktur vital menjadi prioritas utama guna menunjang aktivitas masyarakat dan kelancaran distribusi bantuan.
Pembangunan Jembatan Bailey dan Aramco Sebagai bagian dari langkah strategis pemulihan, BNPB menargetkan pembangunan 270 unit jembatan bailey di tiga provinsi terdampak.
“Hingga saat ini, 20 unit jembatan bailey telah terpasang, sementara 10 unit lainnya masih dalam proses pemasangan,” ujar Abdul Muhari.
Khusus di Provinsi Aceh, pemerintah juga telah mengirimkan 117 unit jembatan aramco untuk membuka kembali akses wilayah yang sempat terisolasi akibat terputusnya jalur transportasi. Salah satu jembatan yang sudah dapat difungsikan adalah Jembatan Bailey Jamur Ujung di ruas Bireuen–Takengon, yang kini bisa dilalui kendaraan roda empat.
Sementara itu, proses perakitan Jembatan Krueng Pelang di Kabupaten Aceh Tengah dilaporkan telah mencapai 80 persen.
Pemulihan Terpadu dan Imbauan Kewaspadaan Selain pembangunan jembatan, upaya pemulihan juga dilakukan melalui normalisasi sungai, pembersihan lumpur, serta perbaikan fasilitas publik. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan secara terpadu oleh unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah.
BNPB menegaskan bahwa percepatan pemulihan infrastruktur dan layanan dasar merupakan kunci untuk mengembalikan aktivitas masyarakat sekaligus menekan risiko sosial dan ekonomi pascabencana. Pemerintah juga terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah.
Dw.










