majalahsuaraforum.com — Serangkaian bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap kinerja perekonomian nasional. Wilayah yang terdampak bencana tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dampak ekonomi dari bencana tersebut diproyeksikan akan menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 sebesar sekitar 0,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini disampaikan oleh kalangan ekonom yang menilai bencana alam berpotensi menurunkan aktivitas ekonomi di daerah terdampak.
Penurunan Konsumsi dan Produksi Jadi Faktor Utama Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut terutama dipicu oleh penurunan belanja atau konsumsi masyarakat di wilayah yang terkena dampak bencana. Selain itu, gangguan terhadap aktivitas produksi juga turut memengaruhi kinerja ekonomi secara keseluruhan.
Menurut David, ketika bencana terjadi, daya beli masyarakat cenderung melemah karena fokus pengeluaran beralih pada pemulihan kebutuhan dasar. Kondisi ini berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jadi kita melihat dampaknya sekitar 0,32 persen dari PDB kurang lebih. Dampak dari penurunan ya, penurunan PDB yang bisa terjadi akibat konsumsi yang menurun, produksi yang menurun dan sebagainya,” kata David dalam Bincang Bareng Media, Senin (15/12/2025).
Efek Multisektor terhadap Perekonomian David menambahkan bahwa dampak bencana tidak hanya dirasakan secara langsung oleh masyarakat terdampak, tetapi juga menimbulkan efek lanjutan terhadap berbagai sektor ekonomi. Gangguan infrastruktur, terhambatnya distribusi barang, serta penurunan aktivitas usaha di daerah bencana berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Selain konsumsi, sektor produksi dan jasa juga berpotensi mengalami penurunan akibat terbatasnya aktivitas ekonomi selama masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana. Hal ini pada akhirnya tercermin dalam penurunan kontribusi daerah terdampak terhadap PDB nasional.
Proyeksi Ekonomi 2025 Perlu Antisipasi Risiko Bencana Dengan mempertimbangkan dampak bencana alam di Sumatera, para ekonom menilai bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 perlu disertai dengan langkah antisipatif terhadap risiko bencana. Upaya percepatan pemulihan ekonomi daerah terdampak menjadi kunci untuk menekan dampak lanjutan terhadap pertumbuhan nasional.
Pemulihan konsumsi masyarakat, perbaikan infrastruktur, serta dukungan terhadap sektor produksi di wilayah terdampak diharapkan dapat meminimalkan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.
Lan.











