majalahsuaraforum.com — Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menegaskan pengembangan industri bioetanol di Indonesia tidak boleh hanya menjadi ruang bagi perusahaan-perusahaan besar.
Pemerintah memastikan masyarakat turut mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam pengembangan industri tersebut, baik melalui penyediaan bahan baku maupun pengembangan usaha di wilayah produksi.
Amran menyebut sedikitnya 30 persen dari pengembangan bioetanol harus melibatkan masyarakat. Ketentuan tersebut ditujukan agar manfaat ekonomi dari pertumbuhan industri bioetanol dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30% rakyat. Jadi rakyat menikmati. Ini dia tumbuh bersama perusahaan,” ujar Amran di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Amran, keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun industri bioetanol yang berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi rakyat. Pemerintah, kata dia, ingin agar pengembangan industri tersebut tidak hanya memberikan keuntungan kepada korporasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan produksi.
“Sekarang tidak boleh di bawah 20%, harus 30% untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat. Ini yang kita dorong, ekonomi rakyat,” katanya.
Pengusaha Daerah Juga Didorong Ikut Terlibat Selain memberikan ruang kepada masyarakat, pemerintah juga mendorong pengusaha dari daerah agar dapat mengambil bagian dalam pengembangan industri bioetanol.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan investasi dan pengembangan industri tidak hanya terpusat pada perusahaan besar maupun kawasan tertentu.
Amran mengatakan pengusaha daerah dapat mengajukan usulan untuk terlibat dalam proyek bioetanol dengan mempertimbangkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masing-masing wilayah.
“Kalau bisa ada pengusaha daerah, usulkan. Ini untuk pemerataan pembangunan. Kalau tidak ada, kabupaten ke provinsi baru nasional,” ujarnya.
Menurut Amran, pelibatan pengusaha daerah juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas pemerataan pembangunan. Dengan demikian, pengembangan bioetanol tidak hanya berlangsung di tingkat nasional, tetapi dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha di daerah.
Dorong Pertanian dan Industri Pengolahan Amran menilai pengembangan bioetanol mempunyai potensi memberikan dampak ekonomi yang luas. Salah satunya melalui peningkatan permintaan terhadap berbagai komoditas pertanian yang dapat digunakan sebagai bahan baku.
Peningkatan kebutuhan bahan baku tersebut juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri pengolahan di berbagai daerah.
Rantai ekonomi yang terbentuk dari kegiatan tersebut dinilai berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru. Lapangan kerja tidak hanya muncul di sektor pertanian, tetapi juga pada industri yang mengolah bahan baku menjadi produk energi.
“Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen,” kata Amran.
Dengan berkembangnya industri pengolahan, komoditas pertanian juga tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Produk pertanian dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan baku energi sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Manfaat ekonomi tersebut diharapkan dapat dirasakan oleh berbagai pihak dalam rantai produksi, mulai dari petani sebagai penyedia bahan baku, pelaku usaha daerah, industri pengolahan, hingga pekerja yang terlibat dalam kegiatan produksi bioetanol.
Bioetanol untuk Mendukung Kemandirian Energi Pengembangan bioetanol tidak hanya diarahkan sebagai program untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Pemerintah juga menempatkannya sebagai salah satu upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Peningkatan produksi bahan bakar nabati di dalam negeri diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi impor. Pada saat yang sama, pemanfaatan komoditas pertanian sebagai bahan baku energi dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
Pemerintah menargetkan pengembangan bioetanol dilakukan secara bertahap hingga menuju penerapan E20 pada 2029. Implementasi tersebut kemudian diharapkan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya.
Program bioetanol menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong kedaulatan energi sekaligus memperluas manfaat ekonomi yang berasal dari sektor pertanian.
“Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara besar, negara superpower ke depan,” pungkas Amran.
Lan.











