Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Nama Helmi Nugraha Hakim tercantum dalam daftar delapan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga direkrut untuk bergabung dengan militer Rusia dan dikirim ke medan perang melawan Ukraina.
Helmi dikenal sebagai politisi sekaligus aktivis asal Aceh. Meski lahir di Bandung, Jawa Barat, aktivitas sosial dan politiknya selama ini lebih banyak dilakukan di Aceh. Namanya kini menjadi sorotan setelah masuk dalam laporan Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU).
Menurut laporan FISU, Helmi disebut lahir pada 27 Januari 1983 dan dikaitkan dengan dokumen bernomor C8618662.
Dokumen migrasi Rusia yang dipublikasikan juga mencatat Helmi masuk ke wilayah Rusia pada 25 September 2025. Kartu migrasi tersebut mencantumkan masa tinggal hingga 10 Oktober 2025 serta menyatakan bahwa Helmi tidak memiliki visa.
Helmi disebut memiliki ayah yang berasal dari Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, sedangkan ibunya berasal dari Bandung. Ia sendiri tumbuh dan besar di Bandung.
Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang hubungan internasional pada salah satu perguruan tinggi di Bandung, Helmi kemudian kembali ke Aceh, daerah asal keluarganya. Di sana, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial serta terlibat dalam aktivitas politik.
Pernah Berkiprah di SIRA dan PDIP Dalam perjalanan politiknya, Helmi pernah bergabung dengan Partai Solidaritas Independen Rakyat Aceh (SIRA). Partai lokal tersebut didirikan oleh Muhammad Nazar, salah satu tokoh aktivis referendum Aceh, pada 2007.
Setelah meninggalkan Partai SIRA, Helmi kemudian bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Aceh.
Namun, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Aceh Jamaluddin Idham memastikan Helmi N Hakim kini sudah tidak lagi menjadi kader maupun anggota PDIP. Helmi juga disebut tidak aktif dalam berbagai kegiatan partai.
Jamaluddin menjelaskan, Helmi telah keluar dari PDIP sejak 2023. Sementara itu, kepengurusan DPD PDI Perjuangan Aceh periode 2025–2030 di bawah kepemimpinannya telah melakukan penataan keanggotaan melalui proses KTA-nisasi dan verifikasi secara menyeluruh.
“Sudah kami pastikan, yang bersangkutan sejak 2023 tidak lagi menjadi kader PDI Perjuangan. Saat ini juga tidak tercatat sebagai anggota aktif maupun terlibat dalam kegiatan partai,” kata Jamaluddin.
Atas dasar itu, Jamaluddin menegaskan bahwa berbagai aktivitas Helmi saat ini merupakan kegiatan pribadi dan tidak memiliki keterkaitan dengan organisasi PDI Perjuangan Aceh.
“Kami perlu meluruskan hal ini agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat. Secara organisasi, statusnya sudah jelas,” tegas Jamaluddin.
Pernah Terlibat Kerja Sama Indonesia-Rusia Sebelum namanya muncul dalam laporan intelijen Ukraina, Helmi memang memiliki rekam aktivitas yang bersinggungan dengan Rusia.
Helmi diketahui aktif dalam sejumlah organisasi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Aceh. Pada 2022, ia tercatat menjabat sebagai Ketua Koperasi HKTI Tani Makmur Sejahtera (Tamara) Aceh.
Koperasi tersebut pernah melakukan penjajakan kerja sama dengan pihak Rusia dalam bidang pupuk.
Pada tahun yang sama, nama Helmi juga diberitakan media Rusia, RIA Novosti. Pemberitaan itu berkaitan dengan pertemuan asosiasi petani Indonesia dengan Perwakilan Dagang Rusia di Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Helmi membahas peluang kerja sama teknis antara Indonesia dan Rusia, khususnya dalam sektor pertanian.
Hubungan dengan pihak-pihak dari Rusia disebut berlanjut pada awal 2023. Koperasi yang dipimpinnya disebut memperoleh kepercayaan untuk menyalurkan bantuan dari masyarakat Rusia kepada anak-anak yatim di Aceh melalui Russian House Indonesia.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebelum namanya tercantum dalam laporan FISU, Helmi telah memiliki sejumlah hubungan dan aktivitas yang berkaitan dengan kerja sama Indonesia-Rusia, terutama dalam bidang pertanian dan kegiatan sosial.
Meski demikian, pencantuman nama Helmi dalam dokumen intelijen maupun catatan migrasi Rusia belum dapat dijadikan bukti tunggal bahwa dirinya benar-benar terlibat dalam aktivitas militer Rusia. Dugaan tersebut masih membutuhkan verifikasi serta bukti lebih lanjut.
Delapan WNI Disebut Bergabung dengan Militer Rusia Sebelumnya, FISU merilis daftar delapan WNI yang disebut bergabung dengan militer Rusia dan berada di garis depan dalam perang melawan Ukraina.
Menurut laporan tersebut, para WNI diduga pada awalnya menerima tawaran pekerjaan dengan iming-iming gaji tinggi. Namun, mereka kemudian disebut direkrut dan dikirim untuk bergabung sebagai tentara Rusia.
Intelijen Ukraina mencantumkan delapan nama WNI berikut beserta tanggal kelahirannya:
1. Yuda Putra Pratama, lahir 9 Agustus 1997.
2. Haryanto Dwi Kencana, lahir 14 Juli 1983.
3. Erwanda, lahir 5 Agustus 1988.
4. Ngangun Hudri Fadli, lahir 17 September 1978.
5. Muhammad Syaripudin, lahir 3 Agustus 1994.
6. M Hadi Maulana, lahir 7 April 1987.
7. Wahyu Oktavian Iskandar, lahir 22 Oktober 1985.
8. Helmi Nuraha Hakim, lahir 27 Januari 1983.
Apabila nantinya terbukti bahwa kedelapan WNI tersebut benar-benar bergabung dengan militer asing, status kewarganegaraan mereka berpotensi hilang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Red.











