majalahsuaraforum.com – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan hingga saat ini belum menerima laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban ataupun terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di kawasan perbatasan Nepal-Tibet.
Bencana yang terjadi pada 26 Agustus 2026 tersebut melanda sejumlah wilayah di kawasan Himalaya dan menyebabkan ratusan orang meninggal dunia. Selain warga setempat, sejumlah warga negara asing (WNA) juga dilaporkan menjadi korban dalam bencana tersebut.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak. Pemantauan dilakukan untuk memastikan kondisi dan keselamatan WNI yang berada di Nepal.
“Berdasarkan data KBRI Dhaka, terdapat sekitar 45 WNI yang tercatat berada di Nepal, dengan mayoritas berdomisili di Kathmandu. Hingga saat ini, dari upaya pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait setempat, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” kata Jubir Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, kepada awak media, Minggu (30/8/2026).
Kemlu RI terus berkoordinasi dengan otoritas setempat serta berkomunikasi dengan simpul masyarakat Indonesia yang berada di Nepal. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui keberadaan WNI sekaligus memastikan keselamatan mereka di tengah kondisi bencana.
Koordinasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat pemberian perlindungan apabila sewaktu-waktu terdapat WNI yang membutuhkan bantuan.
Agen Perjalanan Diminta Laporkan Kondisi WNI Yvonne mengatakan Kemlu juga meminta pihak agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal agar aktif memberikan informasi mengenai keberadaan serta kondisi para WNI kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
“Untuk mendukung pemantauan dan langkah perlindungan, agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal juga diimbau untuk segera menyampaikan informasi kepada KBRI mengenai keberadaan dan kondisi WNI,” ucapnya.
Selain melakukan pemantauan, Kemlu mengimbau WNI yang berada atau hendak melakukan perjalanan ke kawasan perbatasan Nepal-Tibet untuk meningkatkan kewaspadaan.
WNI diminta mengikuti setiap arahan yang dikeluarkan otoritas setempat, menjauhi kawasan yang terdampak bencana, serta terus memperbarui informasi melalui sumber-sumber resmi.
“Dalam kondisi darurat, WNI juga diimbau untuk menghubungi saluran hotline KBRI setempat,” ujar Yvonne.
Korban Banjir dan Longsor Terus Bertambah Sementara itu, otoritas Nepal dan China terus memperbarui data korban akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang kawasan terpencil di wilayah Himalaya.
Otoritas Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nasional Nepal dalam laporan terbarunya menyebut jumlah korban meninggal dunia di wilayah Nepal telah mencapai sedikitnya 682 orang hingga Minggu (30/8/2026) pagi.
Selain korban meninggal, jumlah orang yang masih dinyatakan hilang juga mengalami peningkatan hingga mencapai 2.426 orang.
Otoritas Nepal turut memasukkan 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air ke dalam daftar orang hilang. Sebelumnya, daftar tersebut juga mencakup para pendaki dan peziarah yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash, lokasi yang dianggap suci di Tibet.
Dari keseluruhan jumlah orang yang masih hilang tersebut, sebanyak 517 orang tercatat sebagai warga negara asing (WNA) yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Dengan kondisi tersebut, Kemlu RI memastikan pemantauan terhadap WNI di Nepal terus dilakukan melalui koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keselamatan mereka serta memberikan perlindungan apabila diperlukan.
Red.











