majalahsuaraforum.com – Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengalami peningkatan signifikan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian menaikkan status gunung tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), Senin (31/8/2026).
Peningkatan status itu dilakukan setelah Gunung Sinabung mengalami erupsi pada pukul 10.17 WIB. Saat erupsi berlangsung, kolom abu vulkanik terpantau membubung hingga sekitar 3.500 meter di atas puncak gunung atau mencapai kurang lebih 5.960 meter di atas permukaan laut.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan kolom abu yang keluar saat erupsi terlihat berwarna hitam dengan intensitas tebal. Abu tersebut kemudian bergerak atau condong ke arah timur dan tenggara.
“Pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB, terjadi erupsi dengan kolom erupsi sekitar 3.500 m di atas puncak (± 5.960 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara,” kata Lana, Senin.
Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 120 milimeter. Saat laporan dibuat, aktivitas erupsi masih berlangsung.
Badan Geologi menilai erupsi yang terjadi merupakan erupsi awal. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada karena masih terdapat kemungkinan Gunung Sinabung mengalami erupsi dengan kekuatan yang lebih besar.
“Erupsi ini merupakan sebagai erupsi awal, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar,” ujar Lana.
Aktivitas Kegempaan Meningkat Peningkatan aktivitas Gunung Sinabung sebenarnya telah terlihat sebelum terjadinya erupsi. Sepanjang periode 1 hingga 30 Agustus 2026, aktivitas kegempaan di gunung tersebut tercatat mengalami peningkatan.
Dalam periode tersebut, alat pemantauan merekam sebanyak 141 kali gempa Vulkanik Dalam, 29 kali gempa Low Frequency, 14 kali gempa Hembusan, delapan kali gempa Hybrid/Fase Banyak, dua kali gempa Tornillo, satu kali gempa Vulkanik Dangkal, serta satu kali gempa Guguran.
Selain itu, tercatat pula 26 kali gempa Tektonik Lokal, 93 kali gempa Tektonik Jauh, satu kali gempa Terasa, dan satu kali gempa Getaran Banjir.
Menjelang erupsi yang terjadi pada pukul 10.17 WIB, aktivitas kegempaan juga menunjukkan peningkatan. Saat itu tercatat rentetan 85 kali gempa Vulkanik, satu kali gempa Hembusan, serta satu kali Tremor Harmonik.
Berdasarkan rangkaian pemantauan tersebut, Badan Geologi menyimpulkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Sinabung.
“Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas vulkanik pada G. Sinabung, sehingga tingkat aktivitas G. Sinabung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (SIAGA) terhitung mulai tanggal 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB,” kata Lana.
Warga Diminta Menjauhi Kawasan Berbahaya Seiring dengan kenaikan status Gunung Sinabung menjadi Level III (Siaga), Badan Geologi meminta masyarakat maupun wisatawan tidak melakukan aktivitas di sejumlah kawasan yang berpotensi terdampak erupsi.
Masyarakat dan wisatawan diminta menjauhi desa-desa yang sebelumnya telah direlokasi. Aktivitas juga dilarang dilakukan dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Sinabung serta radius sektoral enam kilometer pada sektor selatan hingga tenggara.
Badan Geologi juga memberikan perhatian terhadap potensi bahaya lahar, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung.
“Masyarakat yang tinggal di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar. Badan Geologi meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu terkait erupsi Gunung Sinabung. Masyarakat diminta mengikuti arahan BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo,” imbaunya.
Pemerintah daerah, termasuk BPBD Provinsi Sumatera Utara dan BPBD Kabupaten Karo, juga diminta terus melakukan koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung yang berada di Desa Ndokum Siroga.
Evaluasi terhadap tingkat aktivitas Gunung Sinabung akan dilakukan secara berkala berdasarkan perkembangan hasil pemantauan visual maupun instrumental.
Dw.











