majalahsuaraforum.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) masih belum dapat dinikmati seluruh pelajar. Ratusan siswa dan santri yang berada di Kemukiman Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee, hingga kini belum menjadi penerima manfaat meskipun di wilayah tersebut telah tersedia Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Belum meratanya pelaksanaan program tersebut disebabkan keterbatasan kuota penerima manfaat. Akibatnya, sebagian besar sekolah di kawasan Kemukiman Krueng Batee masih belum masuk dalam daftar penerima MBG.
Kondisi ini memunculkan keluhan dari para orang tua murid sekaligus menjadi perhatian pemerintah kemukiman. Mereka mempertanyakan mengapa banyak sekolah di wilayah tersebut belum memperoleh manfaat dari salah satu program prioritas pemerintah.
Ketua Mukim Krueng Batee, Teungku Agus, mengatakan masih banyak sekolah di wilayahnya yang belum pernah menerima distribusi makanan bergizi gratis.
“Masih banyak sekolah di Kemukiman Krueng Batee belum pernah menerima jatah MBG,” kata Ketua Mukim Krueng Batee, Teungku Agus, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Agus, berbagai keluhan terus disampaikan para wali murid yang mempertanyakan mengapa anak-anak mereka belum mendapatkan program tersebut. Ia mengaku telah meminta penjelasan kepada sejumlah pihak sekolah terkait kondisi tersebut.
“Saya juga sempat mempertanyakan kepada pihak sekolah terkait keluhan tersebut. Dari sekian banyak sekolah di Kemukiman Krueng Batee, hanya sekitar 15% yang baru menerima MBG, sementara 85% lagi sama sekali belum pernah menerima,” ujarnya.
Agus menilai situasi tersebut cukup mengherankan. Pasalnya, dapur penyedia MBG justru berada di Desa Alue Pisang, yang masih termasuk dalam wilayah Kemukiman Krueng Batee. Namun, para siswa sekolah dasar maupun santri yang berada di sekitar lokasi dapur belum menjadi penerima manfaat program tersebut.
“Kan aneh, dapur MBG ada di desa itu, sementara siswa SD dan anak pesantren di sana tidak menerima jatah. Kami berharap pihak pengelola bisa memprioritaskan siswa tersebut,” pintanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Alue Pisang, Rauzatul Jannah, menjelaskan bahwa jumlah penerima manfaat belum dapat diperluas karena masih mengikuti kuota yang telah ditetapkan sebelumnya.
Ia menerangkan bahwa dapur MBG yang kini beroperasi di Desa Alue Pisang merupakan hasil relokasi dari dapur sebelumnya yang berada di Desa Alue Padee, Kecamatan Kuala Batee. Karena merupakan relokasi, daftar penerima manfaat juga masih mengikuti skema yang telah berjalan sebelum perpindahan dilakukan.
“Dapurnya pindahan, penerima manfaatnya juga sudah ada,” kata Rauzatul.
Rauzatul mengungkapkan persoalan tersebut sebenarnya sudah menjadi perhatian sejak proses relokasi dapur dilakukan. Pihak SPPG juga telah berkoordinasi dengan koordinator wilayah (Korwil) mengenai kebutuhan penambahan kuota penerima manfaat.
Namun hingga kini, menurutnya, belum ada keputusan dari pemerintah pusat terkait penyesuaian jumlah penerima MBG di wilayah tersebut.
Saat ini, dapur SPPG yang baru beroperasi selama sekitar 14 hari itu masih melayani distribusi makanan bergizi ke 15 sekolah serta satu posyandu, dengan jumlah penerima manfaat mencapai 2.064 orang.
Meski demikian, Rauzatul memastikan peluang bagi siswa dan santri di Kemukiman Krueng Batee untuk memperoleh MBG tetap terbuka. Ia menjelaskan bahwa distribusi dapat diperluas apabila dapur SPPG lainnya di Kecamatan Kuala Batee mulai beroperasi sehingga kapasitas pelayanan meningkat.
“Insyaallah jika dapur SPPG yang ada di Kecamatan Kuala Batee sudah beroperasi, nanti bisa disesuaikan,” pungkasnya.
Dw.











