Home / Kabar Berita / WHO: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Renggut Lebih dari 1.300 Nyawa

WHO: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Renggut Lebih dari 1.300 Nyawa

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian tambahan sejak Minggu (21/6/2026). Fenomena cuaca yang semakin sering terjadi tersebut dinilai sebagai salah satu dampak nyata perubahan iklim yang terus memperburuk kondisi cuaca ekstrem di berbagai wilayah dunia.

Berdasarkan laporan yang disampaikan WHO, angka kematian akibat suhu panas yang tidak biasa itu terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian besar korban berasal dari kelompok masyarakat yang rentan terhadap suhu tinggi.

Mengutip laporan Associated Press (AP), hingga Minggu (28/6/2026), sekitar 1.000 dari total korban meninggal tercatat berada di Prancis. Data dari badan kesehatan masyarakat Prancis menunjukkan bahwa sekitar 85 persen korban meninggal merupakan warga lanjut usia yang berumur di atas 65 tahun.

Selain menyebabkan korban jiwa, gelombang panas juga memicu pecahnya rekor suhu tertinggi di sejumlah negara Eropa.

Menurut laporan AFP, Jerman mencatat suhu mencapai 41,7 derajat Celsius pada Minggu (28/6/2026). Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya yang mencapai 41,5 derajat Celsius dan baru tercipta sehari sebelumnya, yakni Sabtu (27/6/2026).

Sementara itu, Republik Ceko juga mengalami kondisi serupa dengan mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah sebesar 41,9 derajat Celsius pada hari yang sama.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa gelombang panas yang sebelumnya dianggap sebagai fenomena langka kini semakin sering terjadi akibat dampak perubahan iklim dan pemanasan global.

“Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas ‘sekali dalam satu generasi’ kini terjadi hampir setiap tahun. Kita telah diperingatkan,” kata Ghebreyesus melalui akun media sosial resminya.

Menurut Tedros, panas ekstrem kini menjadi ancaman kesehatan yang sangat serius. Ia bahkan menyebut stres akibat suhu tinggi sebagai “pembunuh senyap” (silent killer) karena banyak bangunan di kawasan Eropa, mulai dari rumah tinggal, sekolah hingga tempat kerja, tidak dirancang untuk menghadapi temperatur setinggi yang terjadi saat ini.

Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat panas, terutama kelompok lanjut usia, anak-anak, serta mereka yang memiliki penyakit penyerta.

WHO menegaskan bahwa pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai negara anggota dan mitra internasional untuk memperkuat upaya menghadapi ancaman kesehatan akibat gelombang panas. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi peningkatan kesiapsiagaan, penguatan sistem layanan kesehatan, serta berbagai upaya pencegahan guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat.

Selain itu, WHO juga mendorong seluruh negara di kawasan Eropa agar segera menerapkan rencana aksi kesehatan khusus dalam menghadapi gelombang panas. Kebijakan tersebut dinilai penting sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat perubahan iklim yang semakin nyata.

WHO berharap berbagai langkah mitigasi dan adaptasi dapat segera diterapkan secara menyeluruh agar jumlah korban jiwa akibat cuaca ekstrem tidak terus bertambah pada masa mendatang.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh