Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Venezuela tengah menghadapi salah satu masa paling kelam dalam sejarah modernnya setelah dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara tersebut secara beruntun pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat atau Kamis (25/6/2026) WIB. Di berbagai wilayah terdampak, terutama di La Guaira, tim penyelamat bersama warga masih terus berjuang mengevakuasi korban yang diyakini masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Menggunakan alat berat, sekop, tali, hingga tangan kosong, proses pencarian terus dilakukan dengan harapan masih ada korban yang dapat diselamatkan meski waktu terus berjalan.
Hingga Minggu (28/6/2026), jumlah korban meninggal dunia secara resmi telah mencapai 1.430 orang. Selain itu, lebih dari 68.900 orang dilaporkan hilang dan jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berlangsungnya proses evakuasi.
Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional menjelaskan bahwa 48 hingga 72 jam pertama setelah gempa merupakan periode paling penting untuk menemukan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan. Kini proses penyelamatan telah memasuki hari keempat, sehingga peluang menemukan penyintas semakin kecil meskipun para ahli menyebut kesempatan tersebut masih ada apabila korban memiliki akses terhadap air dan makanan.
Para pakar kebencanaan menilai besarnya kerusakan disebabkan oleh dua gempa besar yang terjadi dalam rentang waktu sangat singkat dengan pusat gempa yang dangkal, sehingga menghasilkan dampak yang jauh lebih merusak dibandingkan gempa tunggal.
Di tengah proses evakuasi, gempa susulan masih terus terjadi. Salah satunya berkekuatan magnitudo 4,8 yang mengguncang wilayah terdampak pada Sabtu (27/6/2026) WIB.
Situasi di lapangan juga semakin sulit. Kantor berita AP melaporkan bahwa di Kota Maiquetia, warga mengantre panjang di depan toko dan apotek yang hanya melayani pembeli satu per satu dari balik pintu yang terkunci.
Sementara itu, di kawasan Catia La Mar yang berada di sekitar bandara utama Venezuela, sebagian warga terlihat mengambil berbagai kebutuhan pokok dari toko-toko yang tidak lagi terjaga. Truk pengangkut roti dan air bersih yang datang ke lokasi langsung dikerumuni masyarakat hingga aparat militer harus turun mengendalikan situasi.
Salah satu kisah memilukan datang dari Yuleidy Cadenas (28). Ia berdiri di depan reruntuhan apartemen tempat keluarganya tinggal sambil berharap putra, ibu, dan saudaranya masih berada dalam keadaan selamat.
Saat gempa terjadi, Cadenas berhasil menyelamatkan diri tanpa sempat mengenakan alas kaki. Namun ketika kembali, ia mendapati apartemen 12 lantai tempat ibunya tinggal telah rata dengan tanah.
“Aku naik ke atas puing dan berteriak meminta mereka membalas, tapi tidak ada yang menjawab bukan saudaraku, bukan anakku, bukan ibuku,” tutur Cadenas dilansir dari AP.
Pemerintah dan Bantuan Internasional Bergerak Pemerintah Venezuela mengklaim telah mengerahkan lebih dari 14.000 personel militer dan kepolisian ke wilayah terdampak. Penjabat Pelaksana Presiden Delcy Rodríguez menyatakan area bencana kini dijaga ketat dan hanya dapat dimasuki dengan izin khusus.
Ketua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodríguez juga menyampaikan bahwa lebih dari 2.000 personel penyelamat dari 21 organisasi internasional telah berada di Venezuela maupun sedang menuju lokasi bencana.
Amerika Serikat termasuk negara yang bergerak cepat memberikan bantuan. Tim pencarian dan penyelamatan berjumlah 80 orang dari Los Angeles dan Fairfax County diberangkatkan hanya dua jam setelah gempa terjadi. Mereka dilengkapi anjing pelacak dan berbagai peralatan modern untuk membantu pencarian korban.
Tim tambahan dari Miami juga diterjunkan. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat mengalokasikan bantuan darurat sebesar 150 juta dolar AS atau sekitar Rp3 triliun dan sedang menyiapkan paket bantuan lanjutan.
“Ini penting sebagai wajah Amerika Serikat,” ujar pejabat senior tersebut.
Di sisi lain, layanan internet satelit Starlink turut membantu dengan menyediakan akses internet darurat secara gratis selama masa tanggap bencana berlangsung.
Bandar Udara Internasional Simón Bolívar juga mulai kembali beroperasi sebagian setelah salah satu landasan pacunya yang sempat mengalami kerusakan berhasil diperbaiki, sehingga distribusi bantuan melalui jalur udara dapat berjalan lebih lancar.
Meski demikian, sejumlah warga menilai kehadiran tim penyelamat pemerintah di lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan paling parah masih sangat terbatas. Kondisi tersebut memunculkan perbedaan antara laporan resmi pemerintah dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Bencana Memperparah Krisis yang Sudah Ada Gempa bumi ini memperburuk kondisi Venezuela yang sebelumnya telah lama menghadapi persoalan ekonomi dan politik.
Organisasi Internasional untuk Migrasi memperkirakan sekitar 6,76 juta penduduk terdampak bencana ini. Dari jumlah tersebut, sekitar dua juta orang berada di ibu kota Karakas.
Selain itu, lebih dari 3.000 keluarga kehilangan tempat tinggal, sekitar 7.500 orang menjalani perawatan di rumah sakit, dan korban luka telah melampaui 3.300 orang hingga Jumat (26/6/2026).
Delcy Rodríguez sendiri baru menjabat sebagai penjabat pelaksana presiden sejak Januari 2026 setelah mantan Presiden Nicolás Maduro ditangkap dan dicopot oleh Amerika Serikat. Pemerintahan baru kini menghadapi tantangan besar karena harus menangani bencana di tengah kondisi politik dan ekonomi yang belum stabil.
Direktur Regional Palang Merah Internasional untuk Amerika, Loyce Pace, menggambarkan bahwa trauma masyarakat masih sangat besar. Banyak warga memilih tidak kembali ke rumah karena takut akan gempa susulan.
“Ribuan orang memilih tidur di jalanan, berlindung di bawah terpal dan tenda darurat di tempat parkir apotek yang berubah fungsi menjadi kamp pengungsian terbuka,” ungkap Loyce dilansir dari NBC News.
Proses pencarian korban pun kerap terganggu akibat kemacetan dan keramaian kendaraan bermotor di sekitar lokasi bencana. Tim penyelamat dari Meksiko bersama petugas tanggap darurat berkali-kali meminta masyarakat menjaga ketenangan agar suara korban yang mungkin masih hidup di bawah reruntuhan dapat terdengar dengan jelas.
Bencana ini tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik yang sangat besar, tetapi juga memperlihatkan tantangan berat yang dihadapi Venezuela sebagai negara yang masih berupaya keluar dari krisis politik dan ekonomi. Di tengah upaya penyelamatan yang terus berlangsung, masyarakat berharap bantuan internasional dan kerja sama seluruh pihak dapat mempercepat pemulihan negara yang kini menghadapi duka dalam berbagai aspek kehidupan.
Red.











