Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara terlibat aksi saling serang pada Minggu (28/6/2026). Situasi ini memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap nasib gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati, sekaligus memperbesar risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Sebagai respons atas serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas militer Iran, Garda Revolusi Iran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal yang mengarah ke wilayah Bahrain dan Kuwait. Di saat yang sama, Teheran memperingatkan bahwa seluruh proses negosiasi dengan Washington akan dihentikan apabila serangan militer kembali dilakukan.
Konflik yang terus memanas juga berdampak pada sengketa di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global. Perselisihan muncul setelah badan maritim multinasional yang berada di bawah pengawasan Angkatan Laut Amerika Serikat memperluas jalur pelayaran di kawasan dekat pesisir Oman.
Pemerintah Iran menolak langkah tersebut dan menegaskan bahwa pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz merupakan hak Teheran. Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga dituduh melakukan serangan terhadap sejumlah kapal yang melintas di sekitar perairan Oman.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi udara yang dilakukan menyasar berbagai infrastruktur strategis milik Iran, mulai dari sistem pengawasan militer, jaringan komunikasi, pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, hingga kemampuan penebaran ranjau laut.
Menurut pihak militer Amerika, serangan tersebut merupakan balasan atas insiden yang menimpa kapal tanker berbendera Panama Kiku, yang mengangkut minyak mentah milik perusahaan energi nasional Qatar.
Melalui akun Truth Social, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa serangan dilakukan karena Iran dinilai kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
“Kami telah menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pantai karena melanggar Perjanjian Gencatan Senjata, lagi!”
Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan militer yang lebih besar apabila Iran terus meningkatkan eskalasi konflik.
“Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!”
Pihak militer Amerika menambahkan bahwa Iran sebenarnya memiliki kesempatan untuk tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata, namun memilih tetap menyerang kapal tanker tersebut sehingga memicu respons militer dari Washington.
Di sisi lain, militer Kuwait mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone dan rudal Iran yang menuju wilayah negaranya. Hingga saat ini belum terdapat laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
Pemerintah Bahrain melalui Kementerian Luar Negeri juga mengutuk keras serangan yang diarahkan ke wilayahnya. Manama menilai tindakan tersebut merupakan ancaman serius terhadap kedaulatan dan keamanan nasional Bahrain.
Bahrain sendiri merupakan lokasi Armada Ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat, sehingga beberapa kali menjadi sasaran dalam rangkaian konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Garda Revolusi Iran kemudian menyatakan bertanggung jawab atas operasi tersebut dan mengungkapkan bahwa sasaran utama serangan adalah Pangkalan Udara Al Asad di Kuwait.
Dalam pernyataan resminya, Garda Revolusi memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat.
“Biarkan musuh tahu bahwa melanggar gencatan senjata akan menyebabkan penghentian total proses yang sedang berlangsung.”
Sebagai pasukan elite Iran, Garda Revolusi memiliki kendali atas program rudal balistik negara tersebut dan bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Dalam beberapa tahun terakhir, organisasi militer tersebut dinilai memiliki peran yang semakin besar dalam menentukan arah kebijakan pertahanan dan keamanan Republik Islam Iran.
Red.











