majalahsuaraforum.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengingatkan seluruh pengelola destinasi wisata di Indonesia untuk melakukan berbagai persiapan menghadapi periode libur sekolah yang diperkirakan berlangsung pada pertengahan Juni hingga Juli 2026. Masa liburan tersebut dinilai sebagai salah satu periode paling penting bagi sektor pariwisata karena berpotensi meningkatkan mobilitas wisatawan nusantara ke berbagai daerah tujuan wisata.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa kesiapan destinasi wisata menjadi faktor utama dalam memberikan pengalaman berlibur yang aman dan menyenangkan bagi masyarakat. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan pengelola destinasi sangat diperlukan untuk menjaga kualitas layanan selama tingginya arus kunjungan wisatawan.
“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan pariwisata dapat terus berkolaborasi menghadirkan destinasi yang aman, nyaman, dan berkualitas sehingga wisatawan dapat menikmati liburan dengan tenang serta membawa kesan positif terhadap pariwisata Indonesia,” ujar Ni Luh dalam keterangan resminya yang dikutip Antara, Sabtu (6/6/2026).
Kemenpar memandang bahwa meningkatnya jumlah wisatawan pada musim liburan harus diimbangi dengan kesiapan fasilitas dan pengelolaan kawasan wisata yang memadai. Oleh karena itu, aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung diminta menjadi perhatian utama seluruh pengelola destinasi.
Pemerintah juga menekankan pentingnya memastikan seluruh sarana dan prasarana pendukung berada dalam kondisi optimal. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung yang biasanya terjadi selama masa libur sekolah.
Selain menjadi periode peningkatan kunjungan, Ni Luh menilai musim liburan juga merupakan kesempatan bagi pengelola destinasi untuk menunjukkan kualitas tata kelola kawasan wisata yang mereka miliki. Berbagai persiapan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan fasilitas umum, pengaturan arus pengunjung, mitigasi risiko, penerapan standar keselamatan, pengelolaan kebersihan dan sampah, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam sektor pariwisata.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan standar keselamatan wisata, Kemenpar telah menyiapkan sejumlah program pelatihan bagi pelaku usaha pariwisata. Program tersebut mencakup berbagai aktivitas wisata yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi, seperti wisata pendakian gunung, wisata perairan, arung jeram, hingga kegiatan snorkeling.
Tidak hanya itu, Kemenpar juga telah menyusun Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dapat dijadikan pedoman oleh para pelaku industri pariwisata. Standar tersebut mengatur berbagai aspek pelayanan wisatawan, mulai dari tahap perencanaan perjalanan hingga wisatawan menyelesaikan kunjungannya dan kembali dari destinasi.
Menurut Ni Luh, dokumen tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan seluruh destinasi wisata mampu memenuhi standar pelayanan yang baik, khususnya terkait keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung.
“Dokumen ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk industri pariwisata, untuk memastikan kesiapan destinasi dalam memenuhi aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan wisatawan,” tegas Ni Luh.
Dengan berbagai langkah persiapan tersebut, Kemenpar berharap momentum libur sekolah dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor pariwisata nasional sekaligus menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas bagi masyarakat.
Lan.











