majalahsuaraforum.com – Musim kemarau panjang tidak selalu menjadi hambatan bagi sektor pertanian. Sejumlah petani cabai di Kabupaten Lebak, Banten, justru mampu memperoleh keuntungan berkat harga jual cabai yang tinggi dan permintaan pasar yang masih terjaga.
Salah satunya adalah Musa (55), petani cabai asal Blok Sangiang Tanjung, Kabupaten Lebak. Ia mengaku telah melakukan panen sebanyak delapan kali dengan total produksi mencapai sekitar 1 ton.
Dengan harga jual cabai yang berada di kisaran Rp45.000 per kilogram (kg), Musa memperkirakan hasil penjualan dari panen tersebut mencapai Rp45 juta.
“Kami sudah memanen delapan kali dengan menghasilkan sekitar 1 ton dan harga Rp 45.000 per kilogram (kg) maka dikalkulasikan Rp 45 juta,” kata Musa, Minggu (9/8/2026).
Musa membudidayakan cabai rawit oranye yang juga dikenal sebagai cabai setan pada lahan seluas 2.500 meter persegi. Lahan darat tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp20 juta dan diperkirakan mampu memberikan keuntungan hingga Rp60 juta.
Tanaman cabai yang ditanam Musa hingga kini masih terus menghasilkan. Dalam satu periode tanam, tanaman tersebut biasanya dapat dipanen hingga 15 kali.
Menurut Musa, budidaya cabai menjadi salah satu pilihan usaha yang cukup menjanjikan bagi petani ketika menghadapi musim kemarau panjang. Kondisi itu terutama dirasakan di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air.
Selain tidak membutuhkan pasokan air sebanyak tanaman pangan, cabai juga memiliki waktu panen yang relatif cepat. Tanaman tersebut umumnya mulai dapat dipanen sekitar 90-100 hari setelah ditanam.
“Kami sudah biasa jika musim kemarau panjang beralih ke pertanian cabai dibandingkan pertanian padi pangan yang membutuhkan banyak pasokan air,” ujar Musa.
Petani Lain Raup Rp7,5 Juta dari Dua Kali Panen Keuntungan dari budidaya cabai juga dirasakan petani lainnya, Roup (50). Ia menanam cabai merah keriting di atas lahan seluas 1.500 meter persegi.
Hingga saat ini, Roup telah melakukan dua kali panen dengan total produksi sekitar 150 kg. Cabai merah keriting tersebut dijual dengan harga Rp50.000 per kg.
Dengan harga tersebut, pendapatan yang diperoleh Roup dari dua kali panen sejauh ini mencapai sekitar Rp7,5 juta.
Cabai merah keriting yang dibudidayakannya didatangkan dari Jawa Tengah. Tanaman tersebut mulai memasuki masa panen ketika berusia sekitar 85 hari setelah tanam.
Masa panen tanaman cabai itu dapat berlangsung hingga usia 120 hari. Dalam satu periode tanam, tanaman tersebut bahkan dapat dipanen hingga 10 kali.
Roup memperkirakan hasil ekonomi dari seluruh periode panen dapat mencapai sekitar Rp50 juta. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk produksi diperkirakan mencapai Rp20 juta.
“Kami memperkirakan pendapatan ekonomi hasil panen cabai bisa mencapai Rp 50 juta dengan modal biaya produksi Rp 20 juta,” kata Roup.
Cabai Jadi Pilihan Saat Kemarau Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dodi Hermawan mengatakan, peralihan komoditas dilakukan oleh sejumlah petani ketika memasuki musim kemarau.
Para petani di wilayah tersebut umumnya mengalihkan lahan dari tanaman pangan ke tanaman sayuran, termasuk cabai. Langkah itu dilakukan karena tanaman sayuran dan cabai membutuhkan pasokan air yang relatif lebih sedikit dibandingkan tanaman pangan.
Menurut Dodi, hasil produksi dari para petani tersebut bahkan mampu memenuhi kebutuhan sejumlah pasar di wilayah Banten hingga Jakarta.
“Di musim kemarau para petani memasok sayuran dan cabai hingga puluhan ton ke sejumlah pasar tradisional di Banten dan Jakarta dengan perputaran uang hingga ratusan juta per hari,” kata Dodi.
Kondisi tersebut membuat musim kemarau panjang tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi petani di Kabupaten Lebak. Dengan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi ketersediaan air dan memiliki nilai jual tinggi, budidaya cabai justru dapat menjadi sumber pendapatan bagi petani.
Lan.











