Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Pemerintah Iran secara resmi melayangkan tuntutan kepada Amerika Serikat dan Israel agar bertanggung jawab penuh atas rangkaian serangan yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk gugurnya Ali Khamenei.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa insiden tersebut bukan sekadar konflik bilateral, melainkan telah masuk dalam kategori pelanggaran serius terhadap perdamaian dan keamanan dunia.
“Kita harus melakukan ini. Bukan hanya Iran, tetapi seluruh komunitas internasional menuntut pertanggungjawaban. Apa yang dilakukan AS dan Israel adalah kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan internasional, serta kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujar Baqaei dalam wawancaranya dengan RIA Novosti, Jumat (17/4/2026).
Iran Soroti Pelanggaran Konvensi Jenewa Dalam pernyataannya, Teheran tidak hanya menyampaikan kecaman politik, tetapi juga mendasarkan tuntutannya pada landasan hukum internasional. Baqaei secara khusus merujuk pada Pasal Umum 1 Konvensi Jenewa 1949 yang mewajibkan seluruh negara untuk menghormati serta memastikan kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional dalam situasi perang.
Menurutnya, tindakan yang dilakukan AS dan Israel merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip-prinsip tersebut.
“Karena tindakan AS dan Israel melanggar prinsip tersebut, saya percaya semua negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa harus menyerukan pertanggungjawaban mereka,” tegas Baqaei.
Pernyataan keras ini merupakan respons atas serangan militer gabungan yang terjadi pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan sejumlah titik strategis di Teheran dan dilaporkan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur, korban warga sipil, serta tewasnya Ali Khamenei.
Balasan Militer Iran Tingkatkan Eskalasi Konflik Pasca serangan tersebut, situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Militer Iran segera meluncurkan serangan balasan dalam skala besar yang menyasar wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan.
Aksi saling serang ini memperburuk stabilitas regional dan meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi konflik yang lebih luas.
Upaya Diplomasi di Islamabad Berakhir Buntu Di tengah meningkatnya tensi, sempat muncul peluang diplomasi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan sebagai upaya membuka ruang negosiasi.
Kesempatan tersebut ditindaklanjuti dengan pertemuan tingkat tinggi antara delegasi Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Kota tersebut dipilih karena dianggap Teheran sebagai mediator yang netral dan dapat dipercaya.
Namun, pembicaraan diplomatik itu tidak menghasilkan kesepakatan.
Pada 12 April 2026, Wakil Presiden AS, J. D. Vance, menyatakan secara terbuka bahwa perundingan gagal mencapai titik temu, sehingga delegasi Amerika kembali ke Washington tanpa membawa hasil.
Dengan tuntutan Iran agar kasus ini dibawa ke pengadilan internasional, prospek perdamaian di Timur Tengah dinilai masih menghadapi tantangan besar dan penuh ketidakpastian.
Red.











