Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Kebijakan blokade yang diberlakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz pasca gagalnya negosiasi awal dengan Iran menuai keraguan. Sejumlah data pelacakan kapal menunjukkan bahwa jalur vital tersebut masih dilalui kapal-kapal niaga.
Blokade yang mulai diterapkan sejak Senin (13/4/2026) waktu setempat mencakup seluruh aktivitas keluar-masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Kebijakan ini diambil sebagai upaya menekan pendapatan minyak Iran setelah perundingan antara kedua negara tidak mencapai kesepakatan.
Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan bahwa implementasi blokade belum sepenuhnya efektif. Data dari perusahaan analisis perdagangan Kpler mengungkapkan adanya kapal yang tetap melintasi Selat Hormuz, baik sebelum maupun setelah kebijakan diberlakukan.
Beberapa kapal tersebut diketahui berangkat dari Iran, membawa produk asal negara tersebut, bahkan ada yang masuk dalam daftar sanksi pemerintah AS. Hal ini turut diperkuat oleh laporan media internasional seperti The New York Times.
Salah satu contoh adalah kapal kargo Christianna berbendera Liberia yang melintas keluar dari Teluk Persia pada Senin malam setelah berangkat dari pelabuhan Bandar Imam Khomeini, Iran. Selain itu, kapal Elpis yang mengangkut metanol juga terpantau melewati selat pada waktu hampir bersamaan dengan dimulainya blokade.
Data lain dari Bloomberg dan Vesselfinder menunjukkan aktivitas kapal masih berlangsung di kawasan tersebut dalam dua hari terakhir. Kapal tanker Murlikishan, misalnya, memasuki Teluk Persia pada Selasa pagi setelah sebelumnya berada di Fujairah, Uni Emirat Arab. Sementara kapal kargo Manali juga tercatat keluar dari Teluk Persia melalui selat tersebut.
Namun demikian, dampak blokade tetap terasa. Sejumlah kapal dilaporkan sempat mengubah arah sebelum kebijakan diberlakukan. Salah satunya kapal Guan Yuan Fu Xing yang berbalik arah di dekat Selat Hormuz saat berlayar dari pesisir Oman.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai bagaimana militer AS akan menegakkan blokade secara menyeluruh di kawasan tersebut. Kondisi ini membuat efektivitas kebijakan tersebut masih menjadi tanda tanya di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan.
Red.











