Home / Kabar Berita / Trump Tekan Eropa: Ancam Hentikan Bantuan Senjata Ukraina Jika Tak Ikut Operasi Hormuz

Trump Tekan Eropa: Ancam Hentikan Bantuan Senjata Ukraina Jika Tak Ikut Operasi Hormuz

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa kembali meningkat. Presiden Donald Trump dilaporkan mengeluarkan ancaman keras dengan menjadikan bantuan militer untuk Ukraina sebagai alat tekanan diplomatik.

Trump disebut akan menghentikan pengiriman senjata ke Ukraina apabila negara-negara Eropa tidak bersedia bergabung dalam koalisi militer untuk membuka kembali jalur strategis di Selat Hormuz.

Bantuan Militer Dijadikan Alat Tawar Mengutip laporan Xinhua News, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Trump menekan negara-negara anggota NATO agar lebih aktif terlibat dalam konflik di Timur Tengah.

Sebelumnya, Trump telah meminta angkatan laut negara-negara NATO untuk ikut serta dalam operasi membuka kembali Selat Hormuz, yang saat ini terganggu akibat meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Namun, permintaan tersebut tidak langsung mendapat dukungan penuh. Sejumlah negara Eropa menunjukkan sikap hati-hati dan cenderung menolak keterlibatan militer langsung di kawasan tersebut.

Kekhawatiran Eropa dan Ancaman dari Washington Beberapa pejabat di Eropa menilai bahwa keterlibatan militer di Selat Hormuz memiliki risiko tinggi, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.

Sebagai respons atas sikap tersebut, Trump mengancam akan menghentikan dukungan terhadap program pengadaan senjata NATO untuk Ukraina, yakni Procurement Unit for Resupply of Lebanon and Ukraine (PURL), yang selama ini didanai secara kolektif oleh negara-negara Eropa.

Ancaman ini memperlihatkan bagaimana bantuan militer menjadi instrumen penting dalam strategi negosiasi Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutunya.

NATO Bergerak, Eropa Mulai Melunak Melihat situasi yang semakin tegang, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte segera mengambil langkah diplomatik. Sejumlah negara besar di Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris akhirnya mengeluarkan pernyataan bersama pada 19 Maret.

Dalam pernyataan tersebut, mereka menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk mencegah Amerika Serikat menarik diri dari skema bantuan militer bagi Ukraina.

Perpecahan Internal NATO Kian Terlihat Meski demikian, perbedaan pandangan di dalam NATO tetap mencuat. Menteri Delegasi Angkatan Bersenjata Prancis, Alice Rufo, menegaskan bahwa mandat utama NATO adalah menjaga keamanan kawasan Euro-Atlantik, bukan melakukan operasi militer di Selat Hormuz.

Ketidaksepahaman ini memicu reaksi keras dari Trump. Berdasarkan laporan The Telegraph, ia bahkan menyebut NATO sebagai “macan kertas” dan mempertimbangkan untuk menarik Amerika Serikat keluar dari aliansi tersebut akibat kurangnya dukungan terhadap kebijakan militernya, termasuk terkait Iran.

Sikap Tegas Inggris Menanggapi kemungkinan penarikan diri Amerika Serikat dari NATO, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya akan tetap berpegang pada kepentingan nasional.

Ia menyatakan Inggris tidak akan mengubah sikap diplomatik maupun kebijakan militernya terkait konflik dengan Iran, meskipun ada tekanan dari Washington.

Masa Depan Bantuan Ukraina Dipertaruhkan Situasi ini menempatkan masa depan dukungan militer untuk Ukraina dalam posisi yang tidak pasti. Keberlanjutan pasokan senjata kini sangat bergantung pada sejauh mana negara-negara Eropa bersedia berkompromi dengan kebijakan geopolitik yang diusung oleh Donald Trump di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan ini sekaligus mencerminkan dinamika hubungan transatlantik yang semakin kompleks, di tengah konflik global yang melibatkan berbagai kepentingan strategis.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh