majalahsuaraforum.com – Serangan yang dilancarkan Iran terhadap pangkalan militer di Arab Saudi berhasil menghancurkan salah satu aset penting militer Amerika Serikat, yakni pesawat sistem peringatan dini dan kendali udara E-3 Sentry. Peristiwa ini menimbulkan berbagai pertanyaan terkait sistem perlindungan aset strategis milik AS.
Pesawat tersebut merupakan bagian dari armada terbatas yang hanya berjumlah sekitar 16 unit dan telah digunakan sejak pertama kali diproduksi pada era 1960-an. Dikenal sebagai pesawat dengan teknologi pemantauan canggih, E-3 Sentry mampu mendeteksi ancaman udara seperti rudal serta mengawasi pergerakan di wilayah pertempuran.
Serangan Terjadi di Pangkalan Udara Saudi Insiden terjadi pada 27 Maret di pangkalan udara Prince Sultan, Arab Saudi, saat pesawat dalam kondisi parkir. Serangan tersebut tidak hanya menghancurkan pesawat, tetapi juga melukai sejumlah tentara AS serta merusak pesawat pengisian bahan bakar di lokasi yang sama.
Foto-foto dari lokasi menunjukkan kerusakan signifikan pada bagian kubah radar pesawat yang berada di dekat ekor, mengindikasikan bahwa serangan dilakukan dengan tingkat akurasi tinggi dan tepat sasaran.
Dugaan Keterlibatan Intelijen Rusia Presiden Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki informasi intelijen yang menunjukkan adanya aktivitas pengintaian oleh satelit Rusia sebelum serangan terjadi. Ia menyebutkan bahwa pangkalan tersebut dipantau sebanyak tiga kali dalam rentang waktu beberapa hari sebelum serangan.
“Kami tahu bahwa jika mereka mengambil gambar sekali, mereka sedang bersiap. Jika mereka mengambil gambar untuk kedua kalinya, itu seperti simulasi. Ketiga kalinya berarti bahwa dalam satu atau dua hari, mereka akan menyerang,” kata Zelensky.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan yang menyebutkan kemungkinan adanya bantuan intelijen dari Rusia kepada Iran, meskipun klaim tersebut telah dibantah oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Kemampuan Serangan Iran Dinilai Meningkat Para analis militer menilai keberhasilan Iran dalam menyerang target bernilai tinggi dalam waktu singkat menunjukkan kemampuan pengawasan dan eksekusi yang semakin canggih. Ahli militer China, Zhang Junshe, menyebut bahwa Iran kemungkinan menggunakan kombinasi teknologi pengintaian modern.
“Ketepatan waktu dan respons cepat Iran menunjukkan mereka punya kemampuan pengawasan waktu nyata, peringatan dini, dan akuisisi target yang relatif kuat,” kata Zhang Junshe.
Ia menambahkan bahwa metode yang digunakan kemungkinan melibatkan pelacakan satelit, dukungan drone, serta kemungkinan intelijen manusia di lapangan.
Kondisi Armada E-3 dan Dampak Kehilangannya Di sisi lain, pesawat E-3 Sentry diketahui sudah berusia tua dan menghadapi berbagai tantangan dalam pemeliharaan. Pada tahun 2024, tingkat kesiapan misi armada ini dilaporkan hanya sekitar 56%, yang berarti hanya sebagian dari total unit yang dapat beroperasi secara optimal.
Dengan kemampuan melacak hingga 600 target sekaligus, pesawat ini berperan sebagai pusat kendali udara yang sangat penting dalam operasi militer modern. Nilai satu unitnya diperkirakan mencapai sekitar USD 540 juta atau setara Rp 9 triliun.
Mantan pilot F-16, Heather Penney, menegaskan pentingnya peran pesawat tersebut dalam operasi tempur.
“Kehilangan E-3 ini sangat problematis, mengingat betapa pentingnya untuk segala hal, mulai dekonfliksi wilayah udara, dekonfliksi pesawat, penargetan, dan memberi efek mematikan lainnya yang dibutuhkan seluruh pasukan di pertempuran,” kata Heather Penney.
Red.











