majalahsuaraforum.com – Selebgram Clara Shinta meluapkan kekecewaan mendalam terhadap kondisi rumah tangganya bersama sang suami, Muhammad Alexander Assad, yang dikabarkan tengah berada di ujung perpisahan.
Dalam sejumlah unggahan di media sosial, Clara mengungkap bahwa konflik yang terjadi tidak hanya menyakitkan bagi dirinya, tetapi juga berdampak besar terhadap keluarga, khususnya anak-anak mereka. Ia menyesalkan situasi rumah tangga yang dinilai mengganggu tumbuh kembang anak yang masih membutuhkan peran kedua orang tua secara utuh.
“Yang paling aku sayangkan itu keluarga besar. Ada anak-anak yang masih butuh peran kami,” ungkap Clara.
Meski diterpa masalah, Clara menegaskan bahwa persoalan finansial bukanlah sumber konflik. Ia menganggap saling membantu dalam keluarga adalah hal yang wajar. Namun, pengorbanan yang telah dilakukan justru terasa tidak sebanding dengan kenyataan yang dihadapi saat ini.
Clara juga mengaku sempat berharap suaminya berubah, terlebih hubungan ini merupakan pernikahan keempat bagi sang suami. Namun harapan tersebut pupus setelah berbagai kejadian yang dinilainya menyakitkan.
“Aku pikir di pernikahan keempat dia bakal berubah, ternyata enggak,” ujarnya.
Skandal VCS Picu Kehebohan Permasalahan rumah tangga ini semakin memanas setelah Clara mengunggah bukti dugaan perselingkuhan suaminya di media sosial. Konten yang dibagikan berupa rekaman video call seks (VCS) yang diduga memperlihatkan sang suami dengan perempuan lain.
Unggahan tersebut langsung viral dan menjadi perbincangan luas di media sosial sebelum akhirnya dihapus. Clara menjelaskan bahwa tindakannya dipicu oleh kepanikan dan emosi yang memuncak saat mengetahui kejadian tersebut.
“Aku bukan oversharing, tapi kalian pasti tahu rasa gemetarnya seperti apa,” tulisnya dalam klarifikasi.
Hingga saat ini, pihak Muhammad Alexander Assad belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan maupun video yang beredar.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik, tidak hanya karena unsur perselingkuhan, tetapi juga dampaknya terhadap keluarga serta cara konflik pribadi terekspos ke ruang publik melalui media sosial.
Aan.











