Home / Ekonomi / Pemerintah Matangkan Skenario Fiskal Hadapi Lonjakan Harga Minyak akibat Konflik Iran

Pemerintah Matangkan Skenario Fiskal Hadapi Lonjakan Harga Minyak akibat Konflik Iran

majalahsuaraforum.com – Pemerintah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi kenaikan harga minyak dunia yang dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, berbagai simulasi telah dilakukan untuk menjaga ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang tahun anggaran berjalan.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga energi global. Namun, pemerintah memastikan telah menghitung dampaknya terhadap fiskal nasional melalui sejumlah skenario.

APBN Dinilai Masih Mampu Menyerap Kenaikan Terbatas Purbaya menjelaskan, dalam batas kenaikan tertentu, harga minyak yang lebih tinggi masih bisa ditopang oleh APBN. Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan lonjakan ekstrem yang dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap anggaran negara.

“Masih bisa diserap oleh APBN jika harga minyak naik pada batas tertentu. Tetapi jika kenaikannya sangat ekstrem, tentu akan kami hitung kembali untuk menyesuaikan kebijakan yang diperlukan,” ujarnya seusai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah membahas ketahanan anggaran apabila krisis global berlangsung lebih lama dari perkiraan. Evaluasi dilakukan untuk memastikan kebijakan fiskal tetap adaptif terhadap dinamika global.

Ketahanan Fiskal Masih dalam Kategori Baik Menurut Purbaya, berdasarkan analisis sementara, kondisi fiskal Indonesia masih tergolong solid. Pemerintah menilai struktur APBN cukup kuat untuk menghadapi tekanan akibat konflik global, termasuk kemungkinan krisis berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Ia menyampaikan bahwa pembahasan juga mencakup proyeksi daya tahan anggaran jika situasi memburuk. Hasil kajian sementara menunjukkan bahwa kapasitas anggaran negara masih memadai.

“Ada pembahasan antara lain jika krisis seperti ini berkepanjangan, apakah anggaran masih mampu bertahan dan bagaimana kondisinya. Berdasarkan analisis sementara, anggaran masih cukup baik sehingga tidak ada masalah,” ujar Purbaya.

Penerimaan Negara Awal Tahun Tumbuh Signifikan Salah satu faktor yang memperkuat posisi fiskal Indonesia adalah peningkatan penerimaan negara pada awal 2026. Penerimaan dari sektor pajak serta bea dan cukai selama periode Januari hingga Februari 2026 tercatat tumbuh sekitar 30%.

Pertumbuhan tersebut dinilai mencerminkan perbaikan aktivitas ekonomi nasional sekaligus meningkatnya kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.

“Angka ini sangat signifikan. Artinya ada perbaikan yang cukup besar pada kondisi ekonomi dan perilaku masyarakat terkait pajak serta bea cukai,” kata Purbaya.

Dengan berbagai langkah antisipasi dan penguatan penerimaan negara, pemerintah optimistis APBN tetap mampu menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh