majalahsuaraforum.com – Di tengah derasnya arus industri fashion modern, upaya melestarikan wastra nusantara menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi pelaku usaha lokal. PT Pertamina (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung UMKM agar mampu berkembang dan naik kelas.
Salah satu kisah sukses yang menonjol adalah Dimas Batik, UMKM asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang kini berhasil mencatat omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan berkat pendampingan berkelanjutan dari Pertamina.
Usaha Keluarga Sejak 1987 Dimas Batik bukanlah usaha baru. Bisnis batik ini telah dirintis sejak tahun 1987 oleh Supriyadi Harmaen. Namun perjalanan usaha sempat terhenti ketika sang pendiri wafat.
Aisha, sebagai generasi kedua yang melanjutkan usaha keluarga tersebut, mengaku pernah berada di titik terendah hingga hampir menyerah. Keterbatasan modal serta akses pemasaran membuat bisnis batik ini nyaris tidak dapat bertahan.
Bahkan, Aisha sempat berpikir untuk melepas usaha tersebut melalui lelang.
“Pas ditinggal sama Bapak itu hampir tadinya mau udahan aja, malah mau dilelang. Sempat berpikir batik saya itu mau dilelang saja,” kenang Aisha saat berbagi kisahnya di pameran Inacraft 2026.
Bangkit Setelah Menjadi UMKM Binaan Pertamina Harapan baru muncul pada tahun 2019 ketika Dimas Batik bergabung sebagai salah satu UMKM binaan Pertamina.
Melalui program tersebut, Aisha memperoleh akses permodalan yang dimanfaatkan untuk membangun galeri sendiri. Selain itu, Pertamina juga memberikan pendampingan usaha untuk membantu Dimas Batik berkembang lebih besar.
Dari kondisi yang sempat terpuruk, dukungan Pertamina menjadi penopang kebangkitan usaha ini hingga mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Pendampingan tidak hanya berupa modal, tetapi juga mencakup pembukaan akses pemasaran serta peningkatan kapasitas usaha melalui berbagai pelatihan.
Aisha mengungkapkan bahwa ia mendapatkan pelatihan branding, strategi pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
“Pendampingnya sangat sangat baik dan terasa sekali mulai dari permodalan pemasarannya, pendampingan cara berjualan, cara berkas hingga cara mengatur keuangannya,” jelas Aisha.
Omzet Naik Drastis Perkembangan Dimas Batik setelah bergabung dengan Pertamina dinilai sangat signifikan. Sebelumnya, omzet usaha ini hanya berada di kisaran Rp 30 juta per bulan.
Namun kini, angka tersebut melonjak tajam hingga melampaui Rp 100 juta per bulan.
“Sangat amat saya rasakan lebih dari yang dulu. Dulu jualannya hanya lewat WA. Setelah bergabung diajak ke pameran-pameran dan bertemu desainer Jakarta,” tambah Aisha.
Menjaga Filosofi Motif Batik Jawa Barat Setiap kain yang diproduksi Dimas Batik bukan sekadar kain bermotif. Motif khas Jawa Barat seperti bunga, burung, hingga Sapu Jagat tetap dipertahankan karena sarat filosofi dan nilai budaya.
Bagi Aisha, setiap goresan canting bukan hanya karya seni, tetapi juga doa dan bentuk perjuangan menjaga warisan sang ayah.
Dengan dukungan Pertamina, produk Dimas Batik kini tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga mulai merambah pasar internasional.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa batik sebagai wastra tradisional mampu bersaing di kancah global apabila dikelola dengan manajemen modern serta didukung pendampingan yang tepat.
Lan.











