Home / Ekonomi / Ekonom Soroti Harga Plastik Naik, Beras dan Minyak Goreng Ikut Terdampak

Ekonom Soroti Harga Plastik Naik, Beras dan Minyak Goreng Ikut Terdampak

majalahsuaraforum.com — Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat (ANH), menyoroti kenaikan harga plastik yang dinilai turut mendorong lonjakan harga bahan pangan, terutama beras dan minyak goreng di berbagai daerah.

Menurutnya, selama ini masyarakat cenderung menilai harga beras hanya dipengaruhi oleh hasil panen dan ketersediaan stok nasional. Padahal, ada faktor lain yang memiliki pengaruh besar, yakni biaya distribusi, termasuk kemasan dan pengangkutan.

“Banyak orang membayangkan harga beras hanya ditentukan oleh panen dan stok. Padahal, beras yang sampai ke pasar juga bergantung pada biaya karung, kantong kemasan, repacking, penyimpanan, dan pengangkutan,” ujar Achmad Nur kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan harga bahan baku plastik sangat berkaitan dengan kenaikan harga nafta di pasar global. Berdasarkan data Trading Economics, harga nafta pada Maret 2026 tercatat berada di level US$617 per ton, kemudian melonjak menjadi US$874,44 per ton pada 17 April 2026.

Kenaikan harga nafta tersebut secara langsung memengaruhi biaya produksi plastik kemasan. Dampaknya, biaya distribusi bahan pangan juga ikut meningkat hingga akhirnya dibebankan ke harga jual di tingkat konsumen.

“Jika biaya kemasan meningkat, maka ongkos distribusi ikut terdorong,” katanya.

Achmad Nur menilai kondisi ini sejalan dengan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang mencatat pada pekan kedua April 2026 terdapat 83 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Bahkan, 41 daerah di antaranya mencatat harga beras telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Menurutnya, kenaikan harga beras di sejumlah wilayah tidak selalu menandakan stok nasional sedang menipis. Persoalan utama justru bisa terletak pada mahalnya biaya distribusi dari pusat pasokan menuju konsumen.

“Jadi, kenaikan harga beras di daerah tidak selalu berarti stok nasional kurang. Bisa jadi stok tersedia, tetapi biaya penyalurannya semakin mahal. Persoalannya bukan hanya ada atau tidaknya barang, tetapi seberapa efisien barang itu sampai ke konsumen,” tuturnya.

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, ia mengibaratkannya seperti aliran air dari bendungan. Meski stok melimpah, distribusi yang terhambat akan membuat pasokan tidak sampai secara optimal.

“Ibarat air di bendungan, stok boleh banyak. Tapi kalau salurannya sempit, bocor, dan mahal, air tidak akan mengalir lancar ke rumah-rumah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kenaikan harga plastik memang bukan satu-satunya penyebab melonjaknya harga beras, tetapi menjadi salah satu faktor penting yang memperbesar tekanan harga, terutama di daerah dengan sistem pasar yang belum kuat.

“Ini bukan satu-satunya penyebab, tetapi jelas menjadi faktor penting yang memperberat harga, terutama di wilayah dengan struktur pasar yang lemah,” tegasnya.

Tidak hanya beras, dampak serupa juga dirasakan pada komoditas minyak goreng. Menurutnya, kenaikan harga crude palm oil (CPO) akibat gejolak geopolitik global turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga jual di pasar.

Selain pengaruh harga CPO, tingginya biaya kemasan akibat mahalnya plastik juga menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga minyak goreng di sejumlah daerah.

Achmad Nur menilai dampak dari kondisi ini paling dirasakan langsung oleh masyarakat karena berkaitan dengan kebutuhan pokok sehari-hari.

“Masyarakat mungkin tidak mengikuti harga CPO atau energi global, tetapi mereka langsung merasakan mahalnya belanja.

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh