majalahsuaraforum.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memaparkan skema penanganan dan pemulihan sektor transportasi pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Rencana tersebut mencakup tahapan dari tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi lintas sektor sampai tahun 2028.
Paparan itu disampaikan Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, terdapat empat fokus utama penanganan pascabencana, yakni tanggap darurat pada 2026, serta rehabilitasi dan rekonstruksi pada periode 2026–2028. Fokus tersebut meliputi pemulihan lalu lintas, rehabilitasi terminal, perbaikan prasarana perkeretaapian, hingga peningkatan fasilitas bandara sebagai simpul respons kebencanaan.
“Berikut adalah perkiraan kebutuhan anggaran penanganan pascabencana transportasi dengan fokus tahun 2026 pada tanggap darurat sebesar 60,58 miliar, serta rehabilitasi rekonstruksi awal sebesar 129,32 miliar,” ungkap Dudy.
Skema Pendanaan Bertahap Dudy menyebutkan, pendanaan penanganan pascabencana pada 2026 akan memanfaatkan rincian output khusus yang menjadi prioritas sesuai arahan Presiden. Sementara itu, kebutuhan anggaran lanjutan pada 2027 dan 2028 akan diusulkan melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun anggaran 2027–2028.
Adapun rekapitulasi kebutuhan anggaran berdasarkan sektor meliputi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat sebesar Rp103,64 miliar, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Rp11,76 miliar, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Rp589,15 miliar, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Rp702,13 miliar, serta Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan sebesar Rp65,79 miliar.
“Dan berdasarkan sebaran wilayah terdampak, kebutuhan anggaran difokuskan pada Provinsi Aceh sebesar Rp814,80 miliar, Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp544,89 miliar, dan Provinsi Sumatera Barat sebesar Rp112,78 miliar,” tuturnya.
Rincian Kerusakan Infrastruktur Menhub juga memaparkan kondisi kerusakan infrastruktur transportasi di masing-masing wilayah terdampak. Di Provinsi Aceh, kerusakan meliputi tiga terminal tipe A, satu terminal tipe B, dua unit pelaksana penimbangan kendaraan bermotor, serta jalur rel kereta api sepanjang 30 kilometer dengan 65 titik terdampak.
Sementara di Sumatera Utara, bencana berdampak pada satu terminal tipe A serta jalur kereta api Medan–Binjai dan Binjai–Besitang dengan total panjang 99 kilometer di 88 titik lokasi. Kerusakan juga terjadi pada perlengkapan jalan, seperti marka, rambu, penerangan jalan umum (PJU), guard rail, hingga lampu peringatan.
“Untuk di Sumbar, yang terdampak adalah satu terminal tipe A serta jalur rel kereta api Padang-Lubuk Alung-Kayu Tanam sepanjang 52 km turut terdampak sebanyak 8 titik lokasi,” kata Dudy.
Personel dan Armada Disiagakan Untuk mempercepat penanganan di lapangan, Kementerian Perhubungan mengerahkan taruna transportasi di wilayah terdampak. Sebanyak 146 taruna diterjunkan di Aceh, 143 di Sumatera Utara, dan 177 di Sumatera Barat.
Para taruna tersebut dilibatkan dalam kegiatan pembersihan fasilitas umum, distribusi bantuan bahan pokok, serta penyaluran obat-obatan bagi masyarakat terdampak bencana.
Selain itu, Kemenhub juga menyiagakan dukungan transportasi udara berupa 19 armada, yang terdiri dari 12 pesawat terbang dan tujuh helikopter.
“Adapun dukungan transportasi udara sebanyak 19 armada yang terdiri dari 12 pesawat terbang dan 7 helikopter, tetap kami siagakan di tujuh bandara lokasi bencana Sumatera guna menjamin respon cepat terhadap kondisi darurat dan distribusi bantuan,” pungkasnya.
Dw.











