Foto. Ist
majalahsuaraforum.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan pertemuan dengan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, yang dijadwalkan melakukan kunjungan ke Washington pada pekan depan. Pernyataan tersebut muncul di tengah dinamika politik Venezuela yang terus berkembang setelah serangkaian kebijakan dan tindakan Amerika Serikat terhadap negara Amerika Latin itu.
Trump menyampaikan hal tersebut dalam wawancara bersama program Hannity di Fox News pada Kamis (8/1/2026) waktu setempat. Dalam wawancara itu, Trump merespons pertanyaan mengenai rencana pertemuan dengan Machado, yang namanya kembali mencuat dalam pusaran politik Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
“Ya, saya mengerti dia akan datang pekan depan, dan saya berharap dapat menyapanya,” kata Trump.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan keterangan resmi terkait kepastian maupun detail agenda pertemuan tersebut. Jika benar terlaksana, pertemuan ini akan menjadi yang pertama antara Trump dan Machado sejak keduanya berada di panggung politik internasional pada periode terbaru.
Machado sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya belum pernah berkomunikasi dengan Trump sejak dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada Oktober 2025 lalu. Pernyataan tersebut menambah sorotan terhadap kemungkinan dialog langsung antara pemimpin AS dan tokoh oposisi Venezuela tersebut.
Situasi politik Venezuela sendiri masih diliputi ketidakpastian. Pada akhir pekan lalu, Trump sempat menyampaikan sikap skeptis terhadap kemungkinan bekerja sama dengan Machado. Ia menyatakan bahwa tokoh oposisi itu tidak memiliki dukungan kuat maupun rasa hormat yang memadai di dalam negeri Venezuela.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyinggung kondisi demokrasi di Venezuela. Ia menilai negara tersebut belum siap untuk menyelenggarakan pemilihan umum yang kredibel. Saat ini, Venezuela dipimpin oleh Presiden sementara Delcy Rodriguez.
“Kita harus membangun kembali negara itu. Mereka tidak bisa mengadakan pemilihan,” ujar Trump.
“Mereka bahkan tidak tahu bagaimana cara mengadakan pemilihan saat ini,” tambahnya.
Venezuela yang merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dikenal sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Sektor energi negara tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintahan Trump, seiring meningkatnya keterlibatan Amerika Serikat dalam isu Venezuela.
Seorang pejabat senior AS sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa penjualan minyak Venezuela ke Amerika Serikat akan segera dimulai. Pengiriman awal diperkirakan mencapai 30 juta hingga 50 juta barel, dan penjualan tersebut diproyeksikan akan berlanjut tanpa batas waktu tertentu.
Trump juga mengungkapkan rencana untuk bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026). Ia menilai perusahaan-perusahaan tersebut akan memainkan peran penting dalam upaya membangun kembali industri minyak Venezuela.
“Mereka akan membangun kembali seluruh infrastruktur minyak. Mereka akan menghabiskan setidaknya US$ 100 miliar, dan mereka memiliki cadangan minyak yang luar biasa, dengan kualitas dan jumlah yang luar biasa,” kata Trump.
Red.











